"Manusia adalah kebebasan yang mencipta secara total, maka ia menyempurnakan dirinya sendiri, ia adalah suatu rancangan untuk masa mendatang. Jadi, kodrat (esensi) manusia tidak mungkin ditentukan, tetapi adalah terbuka sama sekali. Jadi, eksistensi mendahului esensi manusia. Seandainya Tuhan ada, Ia akan merupakan identitas penuh dari Ada dan kesadaran, dari en-soi dan pour-soi." itulah salah satu kutipan Jean-Paul Starte tentang pemikiran eksistensialisme,yang akan kita bahas di sini . Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat, eksistensialisme paling dikenal melalui kehadiran Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free" atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
A. Biografi Jean-Paul

Jean-Paul Sartre lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. Ayahnya perwira angkatan laut Prancis dan ibunya, Anne Marie Schweitzer, anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari Charles Schweitzer, seorang guru bahasa dan sastra Jerman di daerah Alsace. Ayahnya meninggal sesudah dua tahun kelahiran Jean-Paul dan ibu bersama anaknya pulang ke rumah ayahnya, Charles Schweitzer, di Meudon. Sesudah empat tahun mereka berpindah ke Paris (Bertens, 2001:81). Saat diasuh oleh kakeknya, Charles Schweitzer sangat menyayangi cucunya, dan menjaganya tetap di rumah serta memberikan pendidikan sendiri sampai berusia sepuluh tahun. Masa pengurungan ini menguntungkan Sartre karena dapat mengasah daya nalarnya melalui buku-buku studi kakeknya (Munir, 2008 :104).
Di Paris, Sartre menemukan keajaiban bibliothek kakeknya. Di sana, ia hidup karena merasa menjadi pusat perhatian dan pujaan keluarga. Dengan rambut pirangnya yang panjang dan bergelung-gelung, Sartre kecil dengan cepat menyadari sisi tampan dari dirinya. Sampai suatu hari, sang kakek membawa Sartre ke tukang cukur. Dalam Les Mots Sartre menuliskan peristiwa tersebut tanpa eufimisme : ‘Saat diambil dari ibunya dia masih menakjubkan, tetapi saat dikembalikan kepadanya ia menjadi seekor kodok. Itulah Sartre menemukan dirinya ‘Jelek’. Bukan hanya karena matanya juling, tetapi juga karena rupa serta perawakanya membuatnya mirip ‘kodok’. Penemuan dini ini sangat penting bila dikaitkan dengan dua konsep filsaft Sartre yaitu L’autre dan Le regard (Wibowo, 2011 :25). Ketika berusia 17 tahun, Jean-Paul menerima gelar ‘baccalaureate’ (gelar diploma sekolah menengah yang elit) dan ia memulai studi selam 6 tahun di Sorbonne untuk mendapatkan aggregation, ujian yang akan memberinya jalan untuk memasuki karier akademis dalam bidang filsafat. Namun pada tahun 1928 ia gagal dalam aggregation dan mendapatkan peringkat paling akhir di kelasnya (Palmer, 2007:6). Tetapi setahun kemudia Sartre berhasil mendaptkan rangking pertama dalam ujian aggregation-nya, di sini jugalah dia bertemu partner seumur hidupnya, Simone de Beauvoir. Pada masa perang dunia, Sartre bergabung dengan militer Prancis (1939) sebagai seorang meteorologis. Ia ditangkap tentara Jerman di Padoux dan dipenjara selama 9 bulan. Selama menjadi tahanan perang, Sartre berpindah-pindah dari Padoux kemudian ke Nancy, dan terakhir ke Stallag, Treves. Di kota terakhir inilah dia menulis skenario teater pertamanya Bariona, Fills du tonnerre. April 1941, Sartre dibebaskan karena alasan kesehatan. Namun, masa menjadi tahanan itu memberikan makna mendalam bagi Sartre di sepanjang hidupnya. Setelah kembali ke Paris, Sartre bergabung dengan kelompok pergerakan dan menulis di berbagai majalah seperti Les Leteres Francaise dan Combat. Sartre pernah mendirikan review bulanan tentang Sastra dan politik, Les Temps Modernes, dan membaktikan diri sepenuhnya pada kegiatan menulis dan politik (Adian, 2010:69-70). Tahun 1964, Sartre dianugerahi hadiah nobel untuk bidang sastra. Karena alasan politis ia menolak hadiah tersebut. Jean Paul Sartre meninggal tanggal 15 April 1980. Para dokter berusaha membujuk Simone de Beauvoir yang sangat terpukul oleh kematian Sartre untuk tidak berbaring di atas tubuh Sartre sepanjang malam. Meskipun status intelektualnya dipudarkan oleh kesuksesan Strukturalisme dan post-Strukturalisme, sebagai pribadi ia tetap sangat populer pada saat kematiannya. Jalan-jalan di kota Paris dipadati orang-orang yang menghormatinya dalam jalan menuju pemakaman (Palmer 2007: 17). Lebih dari lima puluh ribu orang hadir dalam iring-iringan dan pemakaman filsuf perancis ini.
B. Eksistensialisme
A. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
B. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
C. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa. Masyarakat industri cenderung menundukkan orang seorang pada mesin.
D. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
E. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
F. Eksistensialisme menenkankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. (Muntansyir:2001, 92)
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala-galanya dengan berpangkalan pada eksistensi. Menurut asal kata eks berarti keluar dan sistensi berarti menempatkan, berdiri. Atau bisa dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara manusia berada di dunia ini. Cara itu hanya khusus bagi manusia, jadi yang bereksistensi itu hanya manusia. (Driyarkara, 2006a:1281-1282)
Sedangkan Menurut Sartre, seorang eksistensialis adalah orang yang percaya dan bertindak berdasarkan dalil berikut, yang berlaku untuk semua umat manusia yaitu ‘eksistensi mendahului esensi’. Apa artinya? Sebelum itu marilah kita membahas pendapat ‘esensi mendahului eksistensi’. Esensi berarti hakikat dari suatu hal, definisi dari suatu hal, ide mengenai suatu hal, sifat dasar atau kodrat, fungsi, dan program. Artinya bahwa dalam benda buatan manusia esensi benar-benar mendahului eksistensi (Palmer, 2007:21).
Contohnya dapat kita lihat dari gunting. Gunting mempunyai ide di dalamnya, yaitu alat untuk menggunting sesuatu. Bila kita menemukan benda, dan itu dapat digunakan untuk menggunting sesuatu, kita dapat menyebutnya gunting. Karena manusia sebagai pembuat benda (gunting) sudah memberikan ide gunting dalam benda yang sekarang kita sebut dengan gunting. Tetapi hal ini tidak berlakuk untuk manusia. Karena tidak ada Tuhan yang menciptakan ide tentang manusia -setidaknya itulah yang dikatakan Sartre.
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Dan sebagai demikian itu maka ia tidak bisa dipertukarkan. Dengan demikian pula maka adanya manusia berbeda dengan adanya hal-hal lain yang tanpa kesadaran tentang adanya sendiri. Dengan lain perkataan bagi manusia eksistensi adalah keterbukaan; berbeda dengan benda-benda yang lain dimana ada itu sekaligus esensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Demikian Sartre menegaskan asas pertama dari ajarannya. Ini berarti pula bahwa bagi Sartre asas pertama sebagai dasar untuk memahami manusia haruslah mendekatinya sebagai subyektivitas. Manusia sebagai pencipta dirinya sendiri tidak akan selesai-selesai dengan ikhtiarnya itu. Sebagai eksistensi yang ditandai oleh keterbukaan menjelang masa depannya, maka manusia pun merencanakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri.
Ini mengandung arti bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apapun jadinya eksistensinya, apapun makna yang hendak diberikan pada eksistensinya itu, tiada lain yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Sebab dalam membentuk dirinya sendiri itu, manusia mendapat kesempatan untuk tiap kali memilih apa yang baik dan apa yang kurang baik baginya. Setiap pilihan yang dijatuhkan terhadap alternatif-alternatif yang ditemuinya adalah pilihannya sendiri; ia tidak bisa mempersalahkan orang lain, tidak pula bisa menggantungkan keadaan pada Tuhan (Hassan,1976:103).
Dalam artian tertentu, definisi Sartre mengenai eksistensialisme hanya meradikalkan pandangan yang sangat umum di antara kebanyakan ahli ilmu sosial : bahwa tidak ada naluri yang menyebabkan tindakan-tindakan tertentu. Dengan begitu manusia tidak menyerupai kucing. Dalam hal ini perilaku yang benar-benar dihasilkan oleh naluri tidak ada pilihan. (Laba-laba penjebak pasti menenun jaring penjebak, dan burung berkicau pasti berkicau). Benar bahwa ada fungsi-fungsi dan reflek-reflek tubuh manusia yang bekerja dalam keharusan daripada dalam kebebasan, tetapi fungsi-fungsi tubuh manusia yang seperti itu tidak pernah menghasilkan tindakan-tindakan manusia sesungguhnya, sebagai contoh adalah perbedaan mengedipkan mata (tindakan manusia) dan berkedip (bukan tindakan manusia sesungguhnya) (Palmer, 2007: 2
Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun. Apakah itu tradisi metafisika, epistemologi atau sains. Fenomenologi adalah upaya hati-hati dalam mendiskripsikan hal ihwal sebagaimana mereka menampakan diri ke dalam kesadaran. Dengan kata lain, semua persoalan tentang semesta luar harus didekati dengan senatiasa melibatkan cara penampakan mereka pada kesadaran manusia (Adian,2010 : 6&7). Untuk mempermudah kajian tentang fenomenologi, ada satu istilah yang diberikan oleh Maurice Natanson untuk memahami apa itu Fenomenologi: ‘fenomenologi adalah a science of beginnings’. Untuk bisa berfenomenologi orang harus bersikap seperti pemula (beginner). Dalam hal apa? Dalam segala hal! Sebagai contoh andaikan kita melihat tata-krama pergaulan seolah-olah untuk pertama kalinya. Sebagai pemula dalam hal ini, kita akan heran bahwa sistem sopan-santun itu ada. Bersikap sebagai pemula oleh Husserl dirumuskan sebagai reduksi fenomenologis atau epoche. Anggapan bahwa tata Krama itu sudah ada entah di dalam atau di luar kesadaran harus diberi tanda kurung dulu (eingeklammert), dan tata-krama dibiarkan menampakkan diri apa adanya. Yang diperoleh lewat reduksi ini bukan tata krama sebagaimana dipahami osecara ilmiah oleh sosiologi atau etnologi, melainkan sebagaimana dihayati oleh para pelakunya. Dunia yang dihayati sendiri oleh para aktor social inilah yang menjadi objek penelitian fenomenologi (Hardiman, 2003: 22-24).
Sebagai landasan ontologisnya, Sartre pertama menyuguhkan konsep L etre-en-soi, apa itu L etre-en-soi ? secara arti, L etre-en-soi berarti being-in-itself atau berada dalam dirinya sendiri.Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita bedah term itu satu persatu. Pertama etre, Driyarkara menjelaskan apa yang dimaksud etre :
Lebih jelasnya tentang etre-en-soi itu harus dikatakan : it is what it is. Etre-en-soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak negatif : kategori-kategori macam itu itu hanya mempunyai arti dalam kaitan dengan manusia. Etre-en-soi tidak mempunyai masa silam, masa depan; tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Etre-en-soi itu sama sekali kontingen. Artinya : ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa diciptakan, tanpa dapat dimainkan dari sesuatu yang lain (Bertens, 2001 : 92). Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala yang L etre-en-soi, adalah memuakkan. Mengapa ? Meja, kursi, pohon, dan sebagainya, dalam dirinya bukanlah apa-apa. Benda-benda itu bila kita lihat sebagai de-facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apa pun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak memuakkan (Hadiwijono, 2011 : 159).
Konsep yang sulit ini dapat dipermudah dengan contoh. Sekarang marilah kita menganggap ada seorang manusia. Berbeda dengan benda-benda lain yang tidak sadar akan keberadaannya. Manusia itu ada, ada berarti dia sadar dengan keberadaanya. Sedangkan manusia yang sadar dengan keberadaannya berarti dia mengetahui sesuatu. mengetahui sesuatu inlah yang disebut Sartre asebagai proses meniadakan sesuatu. Atau dari ‘Ada’ menuju ‘Ketiadaan’. Bagaimana bisa?
Perhatikanlah sekarang, jika manusia sedang dan dalam berbuat, sadar tentang diri sendiri, itu berarti bahwa manusia dengan sadar sedang ada dalam peralihan. Dia sedang mengalih, dia sedang berpindah, dia dalam perjalanan. Sekali lagi dia dengan sadar menjalankan peralihannya itu. Dia beralih, dia mengalih, itu karena sadar tentang diri sendiri. Dia menyadari diri sebagai ini, akan tetapi justru bersama-sama membantah dengan mengalih itu. Jadi, dia berkata ini dan juga membantah, saya tidak mau dan karenanya dia mengalih. Misalnya, seorang mengakui saya ini pencuri. Sedang sadar dan justru karena kesadarannya itu dia membenci sifat pencuri, jadi tidak mau kepencuriannya itu.
Sebetulnya, peniadaan itu terjadi terus menerus, terjadi tak ada berhenti-hentinya, sebab manusia itu tidak pernah berhenti. Dia terus saja berbuat. Setiap perbuatan itu berupa perpindahan. Perpindahan perubahan, karena manusia tidak bisa menghendaki ketetapan dan itu justru karena kesadaranya. Pandanglah sekarang demikian : manusia itu dlaam tiap-tiap perbuatan berubah, mengalih, jadi bergerak ke-. Karena dia sedang berubah, karena dia sedang mengalih ke-, karena dia sedang bergerak ke-, jadi dia belum seperti yang dimaukan. Dia dalam keadaan yang tidak dikehendaki dan keadaan seperti yang dikehendaki belum ada. Jadi dia belum ada. Jadi, yang dikehendaki belum ada dan yang tidak ada tidak dikehendaki. Itulah manusia dalam tiap detik. Jadi dia selalu meniadakan (Driyarkara, 2006a: 1309). Itulah yang dimaksud Ada selalu menuju ketiadaan.
E. Epistemologi Eksistensial Sartre, sebuah Analisis
1. Kesadaran, kritik terhadap Descartes, Freud, dan Husserl
Sebelum melihat pemikiran Sartre
secara lebih mendalam, kita harus mengetahui bagaimana Sartre memberikan dasar
bagi sistem filsafat yang dibangunnya. Dasar itu adalah ; ‘eksistensi’. Manusia
itu bereksistensi. Dasar yang diberikan Sartre untuk filsafatnya dinamakan
eksistensialisme. Walaupun aliran ini sudah berkembang sejak zaman Soren
Kiekergard, tetapi Sartre-lah yang memasukan nama Eksistensialisme ke dunia
filsafat.
Secara umum ciri aliran eksistensialisme adalah sebagai berikut : A. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
B. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
C. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa. Masyarakat industri cenderung menundukkan orang seorang pada mesin.
D. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
E. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
F. Eksistensialisme menenkankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. (Muntansyir:2001, 92)
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala-galanya dengan berpangkalan pada eksistensi. Menurut asal kata eks berarti keluar dan sistensi berarti menempatkan, berdiri. Atau bisa dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara manusia berada di dunia ini. Cara itu hanya khusus bagi manusia, jadi yang bereksistensi itu hanya manusia. (Driyarkara, 2006a:1281-1282)
Sedangkan Menurut Sartre, seorang eksistensialis adalah orang yang percaya dan bertindak berdasarkan dalil berikut, yang berlaku untuk semua umat manusia yaitu ‘eksistensi mendahului esensi’. Apa artinya? Sebelum itu marilah kita membahas pendapat ‘esensi mendahului eksistensi’. Esensi berarti hakikat dari suatu hal, definisi dari suatu hal, ide mengenai suatu hal, sifat dasar atau kodrat, fungsi, dan program. Artinya bahwa dalam benda buatan manusia esensi benar-benar mendahului eksistensi (Palmer, 2007:21).
Contohnya dapat kita lihat dari gunting. Gunting mempunyai ide di dalamnya, yaitu alat untuk menggunting sesuatu. Bila kita menemukan benda, dan itu dapat digunakan untuk menggunting sesuatu, kita dapat menyebutnya gunting. Karena manusia sebagai pembuat benda (gunting) sudah memberikan ide gunting dalam benda yang sekarang kita sebut dengan gunting. Tetapi hal ini tidak berlakuk untuk manusia. Karena tidak ada Tuhan yang menciptakan ide tentang manusia -setidaknya itulah yang dikatakan Sartre.
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Dan sebagai demikian itu maka ia tidak bisa dipertukarkan. Dengan demikian pula maka adanya manusia berbeda dengan adanya hal-hal lain yang tanpa kesadaran tentang adanya sendiri. Dengan lain perkataan bagi manusia eksistensi adalah keterbukaan; berbeda dengan benda-benda yang lain dimana ada itu sekaligus esensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Demikian Sartre menegaskan asas pertama dari ajarannya. Ini berarti pula bahwa bagi Sartre asas pertama sebagai dasar untuk memahami manusia haruslah mendekatinya sebagai subyektivitas. Manusia sebagai pencipta dirinya sendiri tidak akan selesai-selesai dengan ikhtiarnya itu. Sebagai eksistensi yang ditandai oleh keterbukaan menjelang masa depannya, maka manusia pun merencanakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri.
Ini mengandung arti bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apapun jadinya eksistensinya, apapun makna yang hendak diberikan pada eksistensinya itu, tiada lain yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Sebab dalam membentuk dirinya sendiri itu, manusia mendapat kesempatan untuk tiap kali memilih apa yang baik dan apa yang kurang baik baginya. Setiap pilihan yang dijatuhkan terhadap alternatif-alternatif yang ditemuinya adalah pilihannya sendiri; ia tidak bisa mempersalahkan orang lain, tidak pula bisa menggantungkan keadaan pada Tuhan (Hassan,1976:103).
Dalam artian tertentu, definisi Sartre mengenai eksistensialisme hanya meradikalkan pandangan yang sangat umum di antara kebanyakan ahli ilmu sosial : bahwa tidak ada naluri yang menyebabkan tindakan-tindakan tertentu. Dengan begitu manusia tidak menyerupai kucing. Dalam hal ini perilaku yang benar-benar dihasilkan oleh naluri tidak ada pilihan. (Laba-laba penjebak pasti menenun jaring penjebak, dan burung berkicau pasti berkicau). Benar bahwa ada fungsi-fungsi dan reflek-reflek tubuh manusia yang bekerja dalam keharusan daripada dalam kebebasan, tetapi fungsi-fungsi tubuh manusia yang seperti itu tidak pernah menghasilkan tindakan-tindakan manusia sesungguhnya, sebagai contoh adalah perbedaan mengedipkan mata (tindakan manusia) dan berkedip (bukan tindakan manusia sesungguhnya) (Palmer, 2007: 2
C. Metode
Filsafat Sartre ; Fenomenologi,
Mencari Inti Dari Segala Inti
Seperti yang kita kemukakan dalam kerangka berpikir, untuk mencari epistemologi
eksistensial Sartre, kita harus mengetahui metode apa yang digunakannya untuk
membangun filsafatnya. Metode itu adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah
gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Fenomenologi
adalah arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Istilah Fenomenologi bertolak dari bahasa Yunani phainomenon (phainomai, menampakkan diri)
dan logos (akal budi). Ilmu tentang
penampakan berarti ilmu yang menampakan diri ke dalam subyek. Tidak ada
penampakan yang tidak dialami. Hanya dengan berkonsentrasi pada apa yang tampak dalam pengalaman maka
esensi dapat terumuskan dengan jernih. Fenomenologi mencoba menepis semua
asumsi yang mengontaminasai pengalaman konkret manusia. Itu sebabnya fenomenologi
disebutcara berfilsafat yang radikal (Adian, 2010: 4-5). Ada dua tahap dalam analisis
fenomenologi yang pertama hanya menyangkut deskripsi yang teliti dan terperinci
tentang cara dunia menampakkan dirinya sendiri bagi kesadaran dalam semua
teksturnya, dalam semua kekasaran serta kehalusannya. Tahap kedua lebih bersifat teknis
tujuannya adalah pembentukkan deskripsi prateoritis dari bermacam-macam
tindakan kesadaran beserta obyek-obyeknya. Disebut prateoritis karena
dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah deskripsi mengenai bermacam-macam
tindakan kesadaran, bukan suatu teori mengenai kesadaran (Palmer,2007:34). Tujuan dari tahap
pertama adalah untuk memperlihatkan fenomen semurni-murninya. Dalam memandang
suatu hal, katakana saja misalnya agama, bahasa, adat istiadat, kita kerapkali
penuh dengan pendapat-pendapat dari orang lain. Misalnya dari nenek moyang
kita, pemateri ilmu [pengetahuan dan lain sebagainya. Semua ini sudah kita
kurung. Semua hubungan dengan luar kesadaran kita kurung. Jadi kita hanya
melihat fenomen belaka semurni-murninya. Sedangkan
tujuan pada tahap kedua adalah untuk menyaring sampai ke eidos-nya. Sampai ke intisarinya, sampai ke sejatinya atau Wesen-nya. Oleh sebab itu, hasil dari
penyaringan ini disebut Wesenchau, artinya disini kita melihat hakikatnya dari
sesuatu. Hanya inilah pengertian yang sebenarnya. (Driyarkara: 2006b,1327). Fenomenologi
berjuang membuat filsafat sebagai ilmu yang rigoris. Rigoris disini artinya
bebas dari presuposisi yang mendahului pengalaman konkret lalu apakah dengan
begitu fenomenologi setali tiga uang dengan empirisme? Jawabannya, tidak.
Empirisme masih syarat dengan presuposisi. Locke seorang empiris, misalnya
masih mengandalkan adanya substratum material dibalik pengalaman, terlepas dari
konisi apparatus inderawi subyek
pengetahuan. Berkeley masih membawa-bawa Tuhan, hanya Hume yang paling
mendekati, meski juga belum bias melepaskan diri dari pandangan Newtonian yang
deterministik. Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun. Apakah itu tradisi metafisika, epistemologi atau sains. Fenomenologi adalah upaya hati-hati dalam mendiskripsikan hal ihwal sebagaimana mereka menampakan diri ke dalam kesadaran. Dengan kata lain, semua persoalan tentang semesta luar harus didekati dengan senatiasa melibatkan cara penampakan mereka pada kesadaran manusia (Adian,2010 : 6&7). Untuk mempermudah kajian tentang fenomenologi, ada satu istilah yang diberikan oleh Maurice Natanson untuk memahami apa itu Fenomenologi: ‘fenomenologi adalah a science of beginnings’. Untuk bisa berfenomenologi orang harus bersikap seperti pemula (beginner). Dalam hal apa? Dalam segala hal! Sebagai contoh andaikan kita melihat tata-krama pergaulan seolah-olah untuk pertama kalinya. Sebagai pemula dalam hal ini, kita akan heran bahwa sistem sopan-santun itu ada. Bersikap sebagai pemula oleh Husserl dirumuskan sebagai reduksi fenomenologis atau epoche. Anggapan bahwa tata Krama itu sudah ada entah di dalam atau di luar kesadaran harus diberi tanda kurung dulu (eingeklammert), dan tata-krama dibiarkan menampakkan diri apa adanya. Yang diperoleh lewat reduksi ini bukan tata krama sebagaimana dipahami osecara ilmiah oleh sosiologi atau etnologi, melainkan sebagaimana dihayati oleh para pelakunya. Dunia yang dihayati sendiri oleh para aktor social inilah yang menjadi objek penelitian fenomenologi (Hardiman, 2003: 22-24).
D.
Landasan
Filsafat Sartre : Ada dan Ketiadaan
1.
L
etre-en-soi
Dari
buku yang ditulis Sartre Being and
Nothingness, kita dapat melihat landasan ontologis Sartre dalam membangun
filsafat yang menggunkan metode fenomenologi. Dengan dasar-dasar yang sama,
tetapi Sartre mendapatkan kesimpulan yang cukup berbeda dari Husserl maupun
Heidegger sebagai guru fenomenologinya. Sebagai landasan ontologisnya, Sartre pertama menyuguhkan konsep L etre-en-soi, apa itu L etre-en-soi ? secara arti, L etre-en-soi berarti being-in-itself atau berada dalam dirinya sendiri.Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita bedah term itu satu persatu. Pertama etre, Driyarkara menjelaskan apa yang dimaksud etre :
‘’Sekarang kita mendekati pikiran Sartre ikutilah paparan berikut, kita mengerti pohon, kita mengerti hewan, kita mengerti manusia dan sebagainya. Semuanya itu berbeda-beda…Jadi kita menyebut dengan nama-nama atau kata-kata yang berbeda karena apa yang disebut juga berbeda-beda…namun, di antara istilah-istilah yang kita gunakan itu ada yang umum, artinya kita gunkaan untuk menyebut barang-barang yang betul-betul berlainan, misalnya kata barang…di samping itu ada kata lain yang umum pula ialah « ada ». Apa saja yang kita jumpai dapat kita sebut ada atau sesuatu yang berada. Nah, ada atau sesuatu yang berada, itu dalam bahasa Sartre disebut Etre.’’ (Driyarkara, 2006a :1304)L etre-en-soi menunjuk suatu cara bereksistensi yang tertutup, apa yang ada sepenuhnya identik dengan dirinya sendiri. Ia bersifat tertutup rapat, tanpa lobang, tanpa celah, dan tanpa gerak sedikitpun untuk keluar dari dirinya. di situ tidak terdapat-subjek-objek, sama sekali tidak mempunyai relasi. Oleh Sartre L etre-en-soi disebut ‘ada yang tidak berkesadaran’. Boleh dikatakan ada jenis ini adalah adanya benda-benda, yang berada begitu saja (Siswanto, 1998 : 140).
Lebih jelasnya tentang etre-en-soi itu harus dikatakan : it is what it is. Etre-en-soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak negatif : kategori-kategori macam itu itu hanya mempunyai arti dalam kaitan dengan manusia. Etre-en-soi tidak mempunyai masa silam, masa depan; tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Etre-en-soi itu sama sekali kontingen. Artinya : ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa diciptakan, tanpa dapat dimainkan dari sesuatu yang lain (Bertens, 2001 : 92). Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala yang L etre-en-soi, adalah memuakkan. Mengapa ? Meja, kursi, pohon, dan sebagainya, dalam dirinya bukanlah apa-apa. Benda-benda itu bila kita lihat sebagai de-facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apa pun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak memuakkan (Hadiwijono, 2011 : 159).
2 . L
etre-pour-soi
L
etre-pour-soi atau ‘ada untuk
diri’ menunjuk cara beradanya manusia yaitu pada kesadaran manusia ;
sifatnya melebar (co extensive) dengan dunia kesadaran dan sifat kesadaran yang
berada di luar diri sesuatu atau seseorang. Dalam kesadaran barulah muncul
adanya subjek dan objek. Ada yang sadar menjadi subjek, tetapi dia juga bisa
menjadi objek. Jadi seolah-olah di situ ada
keduaanya ; subjek berhadapan dengan objek. Yang berupa subjek adalah
‘pengada yang sadar’. Yang berupa objek ialah dia sendiri, sekedar disadari.
Tetapi kesadaran itu tidak identik dengan dirinya karena ia hanya berdiri
sebagai ‘subjek yang lain’ dan tak terpisahkan dengan dirinya sendiri. Antara
subjek yang menyadari dan objek yang disadari selalu terdapat jarak, jarak
antara aku dan diriku, inilah yang disebut ‘ketiadaan’ (Siswanto, 1998: 141).Konsep yang sulit ini dapat dipermudah dengan contoh. Sekarang marilah kita menganggap ada seorang manusia. Berbeda dengan benda-benda lain yang tidak sadar akan keberadaannya. Manusia itu ada, ada berarti dia sadar dengan keberadaanya. Sedangkan manusia yang sadar dengan keberadaannya berarti dia mengetahui sesuatu. mengetahui sesuatu inlah yang disebut Sartre asebagai proses meniadakan sesuatu. Atau dari ‘Ada’ menuju ‘Ketiadaan’. Bagaimana bisa?
Perhatikanlah sekarang, jika manusia sedang dan dalam berbuat, sadar tentang diri sendiri, itu berarti bahwa manusia dengan sadar sedang ada dalam peralihan. Dia sedang mengalih, dia sedang berpindah, dia dalam perjalanan. Sekali lagi dia dengan sadar menjalankan peralihannya itu. Dia beralih, dia mengalih, itu karena sadar tentang diri sendiri. Dia menyadari diri sebagai ini, akan tetapi justru bersama-sama membantah dengan mengalih itu. Jadi, dia berkata ini dan juga membantah, saya tidak mau dan karenanya dia mengalih. Misalnya, seorang mengakui saya ini pencuri. Sedang sadar dan justru karena kesadarannya itu dia membenci sifat pencuri, jadi tidak mau kepencuriannya itu.
Sebetulnya, peniadaan itu terjadi terus menerus, terjadi tak ada berhenti-hentinya, sebab manusia itu tidak pernah berhenti. Dia terus saja berbuat. Setiap perbuatan itu berupa perpindahan. Perpindahan perubahan, karena manusia tidak bisa menghendaki ketetapan dan itu justru karena kesadaranya. Pandanglah sekarang demikian : manusia itu dlaam tiap-tiap perbuatan berubah, mengalih, jadi bergerak ke-. Karena dia sedang berubah, karena dia sedang mengalih ke-, karena dia sedang bergerak ke-, jadi dia belum seperti yang dimaukan. Dia dalam keadaan yang tidak dikehendaki dan keadaan seperti yang dikehendaki belum ada. Jadi dia belum ada. Jadi, yang dikehendaki belum ada dan yang tidak ada tidak dikehendaki. Itulah manusia dalam tiap detik. Jadi dia selalu meniadakan (Driyarkara, 2006a: 1309). Itulah yang dimaksud Ada selalu menuju ketiadaan.
E. Epistemologi Eksistensial Sartre, sebuah Analisis
1. Kesadaran, kritik terhadap Descartes, Freud, dan Husserl
Sekarang,
kita mencoba memasuki pemikiran Sartre tentang epistemologi. Seperti yang
dikatakan Sudarminta (2012 : 20) bahwa persoalan epistemology yang bersifat
umum antara lain seperti : Apa itu pengetahuan? Apa ciri-ciri hakikinya dan mana batas-batas ruang
lingkupnya? Bagaimana proses manusia mengetahui dapat dijelaskan dan bagaimana
struktur dasar budi atau pikiran manusia itu bisa dijelaskan sehingga
pengetahuan itu mungkin bagi manusia ? apa peran imajinasi dan
sebagainya ? itulah yang coba penulis jawab. Setelah melihat dan
mensistematisasi pemikiran Sartre, dengan metode dan landasan filosofinya,
penulis dapat menyimpulkan bahwa tema besar epistemologi Sartre, berputar pada
tema tentang ‘kesadaran’. Kesadaran manusia, adalah faktor penting manusia
untuk mengetahui. Sartre dalam pembahasannya mengenai kesadaran, sering
memberikan kritik kesadaran yang dilontarakan oleh Descartes dan Husserl.
Kesadaran, dalam pemikiran Sartre, lebih dieksplisitkan, sehingga ia menyelidiki struktur kesadaran dan akhirnya menemukan bahwa kesadaran harus dibedakan antara kesadaran reflektif dan pra-reflektif.
Kesadaran pra-reflektif diartikan sebagai kesadaran yang langsung terarah pada objeknya, tanpa usaha untuk merefleksikan tindak tindakan tersebut. Misalnya, ketika saya sedang menulis di atas sebuah kertas, kesadaran saya tidak terarah pada kegiatan saya yang sedang menulis itu, tetapi pada apa yang saya tulis-Sartre menyebut kesadaran pra reflektif ini sebagai kesadaran yang tidak disadari. Sedangkan kesadaran reflektif adalah kesadaran pra reflektif menjadi temantik. Artinya kesadaran yang membuat kegiatan pada kesadarannya pra-reflektif menjadi sebuah objek kajiannya, artinya kesadaran saya tidak lagi terarah pada tulisan yang saya buat, tetapi pada kegiatan saya menulis (Adian, 2010: 74).
Maksud dari pembedaan ini adalah untuk menunjukan bahwa Descartes salah, sepeti halnya Husserl. ‘Aku ada’ tidak terjadi karena ‘aku berpikir’. Tidak ada diri dalam pikiran kecuali dalam kesadaran reflektif. Tetapi kesadaran reflektif sesungguhnya lebih jarang daripada kesadaran non reflektif. Mungkin Descartes seharusnya berkata ‘saya berpikir, maka ada pikiran’ (Palmer, 2007:39).
Sartre memahami bahwa kesadaran selalu tentang objek-objek dan dipengaruhi oleh objek-objek tersebut (kesadaran tingkat pertama atau pra-reflektif). Pada tingkat pertama kesadaran ini, kita tidak akan menemukan ego yang melampaui pengalaman, kita hanya menemukan apa yang disebut dengan pengalaman itu sendiri. Kita menemukan ego hanya pada tingkat kedua kesadaran, kesadaran mengenai kesadaran atau kesadaran reflektif. Contohnya, ‘itu adalah aku yang melihat buku di atas meja’. Tapi pada tingkat reflektif ini yang kita temukan hanya ego yang berperan sebagai objek, bukan subjek. Ego sebagai subjek yang sadar dan bebas tidak pernah ditemukan dalam kesadaran, itu adalah sesuatu yang senantiasa mengelak dari objektifikasi sekaligus mendahului kesadaran (Adian, 2010:75).
Pemahanan Sartre tentang ini sekaligus menjadi kritiknya terhadapa gurunya yaitu Husserl, yang memahami kondisi yang memungkinkan pengalaman adalah ego transcendental. Tetapi ego transcendental sendiri bukan bagian dari pengalaman. Pengalaman selalu melekat pada sesuatu yang hadir utuh dan solid.
Sartre lebih lanjut mengemukakan tiga taraf kesadaran. Pertama, kesadaran bersifat spontan. Artinya kesadaran itu dihasilkan bukan dari ego atau kesadaran lain – kritik terhadap pemikiran ego Sigmund Freud. Ia menghasilkan dirinya sendiri, sesuatu yang berbeda dari benda-benda sehingga tidak menjadi objek hukum kausal. Kedua, kesadaran bersifat absolut. Kesadaran selalu ada bagi dirinya, dan sekaligus pengungkapan intuitif akan sesuatu yang lain dari dirinya. Ketiga, kesadaran bersifat transparan. Artinya, kesadarn mampu menyadari dirinya sendiri.
Ringkasnya, bagi Sartre, kesadaran memiliki dua karakter yang saling berhubungan. Yaitu kesadaran diri dan intensionalitas. Kesadaran diri mengandaikan kesadaran tentang yang lain, karena kesadaran hanya menyadari dirinya saat ia menyadari sesuatu. Sartre merumuskan, ‘sesuatu yang lain’ adalah sesuatu yang bukan kesadaran dan berada di luar kesadaran. Dengan kata lain, objek-objek bersifat independen dari kesadaran dan bukan ‘fenomena’, sebab dalam tradisi fenomenologi kata ‘fenomena’ selalu diartikan sebagai ‘yang menampakan diri pada kesadaran.’(Adian, 2010:77)
2. Hubungan
Subjek, Objek, dan Pengetahuan tentang Tuhan
Konsep pengetahuan lain, yang penulis temukan dari filsafat Sartre, adalah konsep hubungan subjek dan objek. Konsep ini menjadi pemikiran yang khas bagi Sartre dan sebagai pembeda Sartre dengan para pemikir eksistensialisme lainnya. Hasil dari konsep ini, melahirkan kata-kata Sartre yang terkenal, yaitu “orang lain adalah neraka.”
Sejauh ini kita telah melihat bahwa menurut Sartre ‘diri’ bukanlah entittas substantif yang terus menerus tidak berubah sepanjang waktu. Demikian pula, kepastian absolutnya tidak bisa diasalkan dari kesadaran (seperti yang diyakini Descartes dengan dalilnya “cogito ergo sum”). Diri juga bukan hanya kesatuan biologis, yaitu tubuh manusia, sebagaimana yang diyakini oleh kaum materialis (Karena tidak ada kontinuitas biologis semacam itu. Sel-sel yang membangun kamu delapan tahun yang lalu sudah mati.) ‘diri’ bukanlah sesuatu yang secara otomatis anda peroleh karena memiliki orang tua manusia; sebaliknya, diri adalah pembentukan terus menerus yang setiap saat diciptakan kembali melalui pilihan-pilihan kita (Palmer, 2007:89).
Salah satu kekhususan dalam filsafat Sartre ialah betapa besarnya ia mencurahkan perhatian pada orang lain sebagai kenyataan. Sartre menunjuk pada kenyataan bahwa, betapa orang lain itu selalu dipandang sebagai objek pengamatan kita; orang lain tampil kepada kita dengan perlakuan seolah-olah dia bukan subyek. Padahal orang lain itupun subyek, dan sebagai subyek ia memasuki dunia pribadi kita. Kalau saya bertemu dengan orang lain di suatu tempat, maka saya mengamatinya sebagai pribadi yang menempati dan meyususn dunianya sendiri. Akan tetapi dunia yang dikonstitusikan olehnya itu sebenarnya juga dunia yang akan saya diami sebagai dunia saya sendiri. Munculnya orang lain dalam dunia yang kebetulan saya diami juga itu sekligus berarti monopoli saya atas dunia yang saya diami itu diterjang olehnya.
Misalnya, saya sedang duduk-duduk di taman, tiba-tiba orang lain tampil dan duduk di situ juga. Taman yang tadinya saya hayati sebagai suatu dunia yang saya diami dan bina seniri, dengan segala cita-cita, khayalan dan fikiran-fikiran tiba-tiba saya hayati sebagai dunia yang harus saya diami bersama orang lain (Hassan, 1976: 110).
Bagaimana dengan Tuhan? Bagi Sartre Allah, hanyalah konsep mengenai orang lain yang diarik sejauh-jauhnya sampai ke batas. Dan itu di awali dari hubungan subjek dengan objek yang menimbulkan rasa malu. Malu bukanlah satu-satunya emosi yang disebabkan oleh perjumpaan dengan orang lain. Perjumpaan dengan orang lain juga dapat mengalami rasa takut. Sebenarnya, menurut asasl usulnya, takut muncul ketika saya menemukan berada sebagai objek yang terlihat. Hal itu memperlihatkan bahwa berada-bagi-diri-sendiri ditansendekan oleh kemunkginan-kemungkina yang buakn kemungkinan saya. Menurut Sartre perasaan –perasaan itu dalam bentuknya yang paling dilebih-lebihkna menjadi sumber agama. “Malu di hadapan Allah adalah pengakuan akan berada sebagai objek saya di hadapan subjek yang tidak peranh dapat menjadi objek”
Menurut Sartre, objek-objek imajibasi seakan-akan dinodai oleh semacam ketiadaan. Sartre mengklaim bahwa pada persepsi, kita menangkap objek secara serial dan berbentuk profil, di sisi lain, pada tindak konsepsi, kita menangkap objek secara langsung dan secara keseluruhan. Di sini ia berusaha menunjukan perbedaan proses persepsi dan imajinasi secara radikal.
Imajinasi dan persepsi merupakan bentuk aktivitas kesadaran. Di sisi lain, dua aktivitas kesadaran ini juga membawa kesadaran kepada diri mereka sendiri. Persepsi lebih menekankan objeknya sebagai “benar-benar ada”. Sementara, imajinasi berfokus pada sebuah absensi tindak persepsi, atau dengan kata lain sebagai non-Ada. Imajinasi sengan senfirinya menunda penilaian tetnang apkah sebuah objek benar-benar ada atau tidak. Ringkasnya, menurut Sartre, persepsi menekankan objek sebagai yang ada, sedangkan objek imajinasi meliputi objek yang tidak ada (kuda terbang) dan tidak diandaikan sebagai yang ada.
Sartre mengklaim, pada aktivitas imajinasi, suatu objek menunjukan kesadaran langsung dari ketiadaan. Sartre memberikan catatan bahwa pada tindak imajinasi kita tidak pernah benar-beanr menipu diri kita sendiri secara penuh, sehingga kita menjadi percaya bahwa objek yang dibayangkan benar-benar ada. Di sini, Sartre mengadopsi pengertian Husserl tentang keterberian objek pada tindak persepsi. Ini menjelaskan mengapa Sartre mengklaim bahwa bentuk objek Imajinasi pada tingkat tekstur yang intim sama sekali berbeda pada tindak persepsi yang masih berbentuk keterberian-menjelaskan sebuah pasivitas.
Objek yang dipresepsi memiliki ketakterbatasan yang tersirat pada setiap tindak actual persepsi. Sementara objek yang diimajinasikan sesungguhnnya agak terbatas, tidak pernah sepenuhnya sendiri, sehingga memiliki sebuah kemiskinan yang esensial. Dalam hal ini Sartre memperluas pandangn Husserl yang menyatakan bahwa aktivitas imajinasi, berbenda dengan persepsi (objek hadir dianggap in propria persona) mengakui keabsenan objek.
Dengan demikian Sartre membuat klaim yang kuat bahwa gambaran yang diberikan dalam tindak imajinasi tidak pernah dapat menjadi sumber pengetahuan. Pengertian kemiskinan esensial pada gambar atau objek imajinasi berarti bahwa kita menemukan gambar hanya pada apa yang kita letakkan di sana-pada tindak imajinasi itu sendiri. Jika saya membayangkan gedung parlemen, saya tidak memperoleh pengetahuan dari penghitungan seberapa besar gedung parlemen bukan bentuk kepudaran dari versi asli gedung parlemen, keduanya buksn quasi objek, keduanya bukan objek sama sekali-melainkan hanya sebentuk kekosongan. Menariknya, dalam analisis ini, Sartre secara implisist menolak sebuah ide sentral metodologi Husserl, yaitu bahwa melalui variasi imajinatif, kita bisa sampai pada kebenaran penting yang baru tentnag suatu objek.
Sarte menyangkal bahwa kita memperoleh pengetahuan baru dari imajinasi dan sekaligus membuatnya bertentangan dengan Husserl yang menyatakan bahwa kita telah mendapatkan pengetahuan baru dari kontemplasi bentuk-bentuk aktivitas kesadaran. Sartre menyatkan dengan tegas if I amuse myself by turning over in my mind the image of a cube, if I pretend I see its different sides, I shal be no further ahead at the close of the process than I was at beginning : I have learnt nothing.
Menurut Sartre, meskipun kita mengankap gambaran dalam sebuah tindakan quasi pengamatan, kita tetap tidak belajar apa-apa dari hal tersebut. Sartre menegaskan bahwa sikap saat berimajinasi memang merupakan salah satu pengamatan, tapi itu sebuah pengamatan yang tidak menagajarkan apa-apa selain sebuah penegasan kekosongan. Sartre memberikan sebuah contoh yang gamblang. Jika Anda membayangkan sebuah halaman dari sebuah buku, Anda mengasumsikan sikap pembaca, Anda seolah melihat halaman yang dicetak. Akan tetapi, sebenarnya anda tidak sedang membaca. Dan, sebenarnya anda bhakan tidak melihat, karena anda sudah tahu apa yang tertulis di sana. Dengan demikian, tidak ada pengetahuan baru dari objek imajinasi (Adian, 2010 :87-89).
F. Daftar Pustaka
Adian, Donny Gahral, 2010, Pengantar Fenomenologi, Depok : Koekoesan
Bertens, K, 2001, Filsafat Barat Kontemporer: Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driyarkara, Nicolas, 2006a, Eksistensialisme, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama________, 2006b, Fenomenologi, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Hadiwijono, Harun, 2011, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta : Kanisius
Hardiman, F. Budi, 2003, Heidegger dan Mistik Keseharian, Jakarta : KPG
Hassan, Fuad, 1976, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Jakarta : Pustaka Jaya
Philosophyresearcher.com/2013/08/epistemologi-eksistensial-dalam.html
Munir, Misnal, 2008, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer, Yogyakarta : Lima
Muntasyir, Rizal, & Misnal Munir, 2001, Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Palmer, D, Donald, 2007, Sartre untuk Pemula, Yogyakarta : Kanisius
Siswanto, Joko, 1998, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sudarminta, J, 2012, Epistemologi Dasar, Yogyakarta :Kanisius
Wibowo, A. Setyo, 2011, Eksistensi Kontingen, dalam R. Sani Wibowo, B.C Triyudo, Benny Beatus, dkk (Ed), Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Yogyakarta : Kanisius
Kesadaran, dalam pemikiran Sartre, lebih dieksplisitkan, sehingga ia menyelidiki struktur kesadaran dan akhirnya menemukan bahwa kesadaran harus dibedakan antara kesadaran reflektif dan pra-reflektif.
Kesadaran pra-reflektif diartikan sebagai kesadaran yang langsung terarah pada objeknya, tanpa usaha untuk merefleksikan tindak tindakan tersebut. Misalnya, ketika saya sedang menulis di atas sebuah kertas, kesadaran saya tidak terarah pada kegiatan saya yang sedang menulis itu, tetapi pada apa yang saya tulis-Sartre menyebut kesadaran pra reflektif ini sebagai kesadaran yang tidak disadari. Sedangkan kesadaran reflektif adalah kesadaran pra reflektif menjadi temantik. Artinya kesadaran yang membuat kegiatan pada kesadarannya pra-reflektif menjadi sebuah objek kajiannya, artinya kesadaran saya tidak lagi terarah pada tulisan yang saya buat, tetapi pada kegiatan saya menulis (Adian, 2010: 74).
Maksud dari pembedaan ini adalah untuk menunjukan bahwa Descartes salah, sepeti halnya Husserl. ‘Aku ada’ tidak terjadi karena ‘aku berpikir’. Tidak ada diri dalam pikiran kecuali dalam kesadaran reflektif. Tetapi kesadaran reflektif sesungguhnya lebih jarang daripada kesadaran non reflektif. Mungkin Descartes seharusnya berkata ‘saya berpikir, maka ada pikiran’ (Palmer, 2007:39).
Sartre memahami bahwa kesadaran selalu tentang objek-objek dan dipengaruhi oleh objek-objek tersebut (kesadaran tingkat pertama atau pra-reflektif). Pada tingkat pertama kesadaran ini, kita tidak akan menemukan ego yang melampaui pengalaman, kita hanya menemukan apa yang disebut dengan pengalaman itu sendiri. Kita menemukan ego hanya pada tingkat kedua kesadaran, kesadaran mengenai kesadaran atau kesadaran reflektif. Contohnya, ‘itu adalah aku yang melihat buku di atas meja’. Tapi pada tingkat reflektif ini yang kita temukan hanya ego yang berperan sebagai objek, bukan subjek. Ego sebagai subjek yang sadar dan bebas tidak pernah ditemukan dalam kesadaran, itu adalah sesuatu yang senantiasa mengelak dari objektifikasi sekaligus mendahului kesadaran (Adian, 2010:75).
Pemahanan Sartre tentang ini sekaligus menjadi kritiknya terhadapa gurunya yaitu Husserl, yang memahami kondisi yang memungkinkan pengalaman adalah ego transcendental. Tetapi ego transcendental sendiri bukan bagian dari pengalaman. Pengalaman selalu melekat pada sesuatu yang hadir utuh dan solid.
Sartre lebih lanjut mengemukakan tiga taraf kesadaran. Pertama, kesadaran bersifat spontan. Artinya kesadaran itu dihasilkan bukan dari ego atau kesadaran lain – kritik terhadap pemikiran ego Sigmund Freud. Ia menghasilkan dirinya sendiri, sesuatu yang berbeda dari benda-benda sehingga tidak menjadi objek hukum kausal. Kedua, kesadaran bersifat absolut. Kesadaran selalu ada bagi dirinya, dan sekaligus pengungkapan intuitif akan sesuatu yang lain dari dirinya. Ketiga, kesadaran bersifat transparan. Artinya, kesadarn mampu menyadari dirinya sendiri.
Ringkasnya, bagi Sartre, kesadaran memiliki dua karakter yang saling berhubungan. Yaitu kesadaran diri dan intensionalitas. Kesadaran diri mengandaikan kesadaran tentang yang lain, karena kesadaran hanya menyadari dirinya saat ia menyadari sesuatu. Sartre merumuskan, ‘sesuatu yang lain’ adalah sesuatu yang bukan kesadaran dan berada di luar kesadaran. Dengan kata lain, objek-objek bersifat independen dari kesadaran dan bukan ‘fenomena’, sebab dalam tradisi fenomenologi kata ‘fenomena’ selalu diartikan sebagai ‘yang menampakan diri pada kesadaran.’(Adian, 2010:77)
Konsep pengetahuan lain, yang penulis temukan dari filsafat Sartre, adalah konsep hubungan subjek dan objek. Konsep ini menjadi pemikiran yang khas bagi Sartre dan sebagai pembeda Sartre dengan para pemikir eksistensialisme lainnya. Hasil dari konsep ini, melahirkan kata-kata Sartre yang terkenal, yaitu “orang lain adalah neraka.”
Sejauh ini kita telah melihat bahwa menurut Sartre ‘diri’ bukanlah entittas substantif yang terus menerus tidak berubah sepanjang waktu. Demikian pula, kepastian absolutnya tidak bisa diasalkan dari kesadaran (seperti yang diyakini Descartes dengan dalilnya “cogito ergo sum”). Diri juga bukan hanya kesatuan biologis, yaitu tubuh manusia, sebagaimana yang diyakini oleh kaum materialis (Karena tidak ada kontinuitas biologis semacam itu. Sel-sel yang membangun kamu delapan tahun yang lalu sudah mati.) ‘diri’ bukanlah sesuatu yang secara otomatis anda peroleh karena memiliki orang tua manusia; sebaliknya, diri adalah pembentukan terus menerus yang setiap saat diciptakan kembali melalui pilihan-pilihan kita (Palmer, 2007:89).
Salah satu kekhususan dalam filsafat Sartre ialah betapa besarnya ia mencurahkan perhatian pada orang lain sebagai kenyataan. Sartre menunjuk pada kenyataan bahwa, betapa orang lain itu selalu dipandang sebagai objek pengamatan kita; orang lain tampil kepada kita dengan perlakuan seolah-olah dia bukan subyek. Padahal orang lain itupun subyek, dan sebagai subyek ia memasuki dunia pribadi kita. Kalau saya bertemu dengan orang lain di suatu tempat, maka saya mengamatinya sebagai pribadi yang menempati dan meyususn dunianya sendiri. Akan tetapi dunia yang dikonstitusikan olehnya itu sebenarnya juga dunia yang akan saya diami sebagai dunia saya sendiri. Munculnya orang lain dalam dunia yang kebetulan saya diami juga itu sekligus berarti monopoli saya atas dunia yang saya diami itu diterjang olehnya.
Misalnya, saya sedang duduk-duduk di taman, tiba-tiba orang lain tampil dan duduk di situ juga. Taman yang tadinya saya hayati sebagai suatu dunia yang saya diami dan bina seniri, dengan segala cita-cita, khayalan dan fikiran-fikiran tiba-tiba saya hayati sebagai dunia yang harus saya diami bersama orang lain (Hassan, 1976: 110).
Bagaimana dengan Tuhan? Bagi Sartre Allah, hanyalah konsep mengenai orang lain yang diarik sejauh-jauhnya sampai ke batas. Dan itu di awali dari hubungan subjek dengan objek yang menimbulkan rasa malu. Malu bukanlah satu-satunya emosi yang disebabkan oleh perjumpaan dengan orang lain. Perjumpaan dengan orang lain juga dapat mengalami rasa takut. Sebenarnya, menurut asasl usulnya, takut muncul ketika saya menemukan berada sebagai objek yang terlihat. Hal itu memperlihatkan bahwa berada-bagi-diri-sendiri ditansendekan oleh kemunkginan-kemungkina yang buakn kemungkinan saya. Menurut Sartre perasaan –perasaan itu dalam bentuknya yang paling dilebih-lebihkna menjadi sumber agama. “Malu di hadapan Allah adalah pengakuan akan berada sebagai objek saya di hadapan subjek yang tidak peranh dapat menjadi objek”
3. Imajinasi dan Pengetahuan
Sarter
memahami bahwa imajinasi adalah cara khusus membuat objek-objek hadir. Semula
Sartre membedakan sejumlah fitur khusus dari kegiatan imajinasi sebagai bentuk
kesadaran yang “kuasi-pengamatan”. Artinya, aktivitas kesadaran ini melampaui
apa yang sebenarnya diberikan melalui persepsi. Lebih lanjut, bentuk kesadrran
ini hanya memebrikan saru sisi parsial objek, setelh itu barulah objek
berbentuk serangkaian profil atau abschattungen.Menurut Sartre, objek-objek imajibasi seakan-akan dinodai oleh semacam ketiadaan. Sartre mengklaim bahwa pada persepsi, kita menangkap objek secara serial dan berbentuk profil, di sisi lain, pada tindak konsepsi, kita menangkap objek secara langsung dan secara keseluruhan. Di sini ia berusaha menunjukan perbedaan proses persepsi dan imajinasi secara radikal.
Imajinasi dan persepsi merupakan bentuk aktivitas kesadaran. Di sisi lain, dua aktivitas kesadaran ini juga membawa kesadaran kepada diri mereka sendiri. Persepsi lebih menekankan objeknya sebagai “benar-benar ada”. Sementara, imajinasi berfokus pada sebuah absensi tindak persepsi, atau dengan kata lain sebagai non-Ada. Imajinasi sengan senfirinya menunda penilaian tetnang apkah sebuah objek benar-benar ada atau tidak. Ringkasnya, menurut Sartre, persepsi menekankan objek sebagai yang ada, sedangkan objek imajinasi meliputi objek yang tidak ada (kuda terbang) dan tidak diandaikan sebagai yang ada.
Sartre mengklaim, pada aktivitas imajinasi, suatu objek menunjukan kesadaran langsung dari ketiadaan. Sartre memberikan catatan bahwa pada tindak imajinasi kita tidak pernah benar-beanr menipu diri kita sendiri secara penuh, sehingga kita menjadi percaya bahwa objek yang dibayangkan benar-benar ada. Di sini, Sartre mengadopsi pengertian Husserl tentang keterberian objek pada tindak persepsi. Ini menjelaskan mengapa Sartre mengklaim bahwa bentuk objek Imajinasi pada tingkat tekstur yang intim sama sekali berbeda pada tindak persepsi yang masih berbentuk keterberian-menjelaskan sebuah pasivitas.
Objek yang dipresepsi memiliki ketakterbatasan yang tersirat pada setiap tindak actual persepsi. Sementara objek yang diimajinasikan sesungguhnnya agak terbatas, tidak pernah sepenuhnya sendiri, sehingga memiliki sebuah kemiskinan yang esensial. Dalam hal ini Sartre memperluas pandangn Husserl yang menyatakan bahwa aktivitas imajinasi, berbenda dengan persepsi (objek hadir dianggap in propria persona) mengakui keabsenan objek.
Dengan demikian Sartre membuat klaim yang kuat bahwa gambaran yang diberikan dalam tindak imajinasi tidak pernah dapat menjadi sumber pengetahuan. Pengertian kemiskinan esensial pada gambar atau objek imajinasi berarti bahwa kita menemukan gambar hanya pada apa yang kita letakkan di sana-pada tindak imajinasi itu sendiri. Jika saya membayangkan gedung parlemen, saya tidak memperoleh pengetahuan dari penghitungan seberapa besar gedung parlemen bukan bentuk kepudaran dari versi asli gedung parlemen, keduanya buksn quasi objek, keduanya bukan objek sama sekali-melainkan hanya sebentuk kekosongan. Menariknya, dalam analisis ini, Sartre secara implisist menolak sebuah ide sentral metodologi Husserl, yaitu bahwa melalui variasi imajinatif, kita bisa sampai pada kebenaran penting yang baru tentnag suatu objek.
Sarte menyangkal bahwa kita memperoleh pengetahuan baru dari imajinasi dan sekaligus membuatnya bertentangan dengan Husserl yang menyatakan bahwa kita telah mendapatkan pengetahuan baru dari kontemplasi bentuk-bentuk aktivitas kesadaran. Sartre menyatkan dengan tegas if I amuse myself by turning over in my mind the image of a cube, if I pretend I see its different sides, I shal be no further ahead at the close of the process than I was at beginning : I have learnt nothing.
Menurut Sartre, meskipun kita mengankap gambaran dalam sebuah tindakan quasi pengamatan, kita tetap tidak belajar apa-apa dari hal tersebut. Sartre menegaskan bahwa sikap saat berimajinasi memang merupakan salah satu pengamatan, tapi itu sebuah pengamatan yang tidak menagajarkan apa-apa selain sebuah penegasan kekosongan. Sartre memberikan sebuah contoh yang gamblang. Jika Anda membayangkan sebuah halaman dari sebuah buku, Anda mengasumsikan sikap pembaca, Anda seolah melihat halaman yang dicetak. Akan tetapi, sebenarnya anda tidak sedang membaca. Dan, sebenarnya anda bhakan tidak melihat, karena anda sudah tahu apa yang tertulis di sana. Dengan demikian, tidak ada pengetahuan baru dari objek imajinasi (Adian, 2010 :87-89).
F. Daftar Pustaka
Adian, Donny Gahral, 2010, Pengantar Fenomenologi, Depok : Koekoesan
Bertens, K, 2001, Filsafat Barat Kontemporer: Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driyarkara, Nicolas, 2006a, Eksistensialisme, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama________, 2006b, Fenomenologi, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Hadiwijono, Harun, 2011, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta : Kanisius
Hardiman, F. Budi, 2003, Heidegger dan Mistik Keseharian, Jakarta : KPG
Hassan, Fuad, 1976, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Jakarta : Pustaka Jaya
Philosophyresearcher.com/2013/08/epistemologi-eksistensial-dalam.html
Munir, Misnal, 2008, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer, Yogyakarta : Lima
Muntasyir, Rizal, & Misnal Munir, 2001, Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Palmer, D, Donald, 2007, Sartre untuk Pemula, Yogyakarta : Kanisius
Siswanto, Joko, 1998, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sudarminta, J, 2012, Epistemologi Dasar, Yogyakarta :Kanisius
Wibowo, A. Setyo, 2011, Eksistensi Kontingen, dalam R. Sani Wibowo, B.C Triyudo, Benny Beatus, dkk (Ed), Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Yogyakarta : Kanisius

