- Pemikiran Dan Biografi Rene Descartes
Rene Decartes merupakan tokoh filsafat yang menganut paham rasinalisme yang
menganggap bahwa akal adalah alat terpenting untuk memeperoleh pengetahuan. Dan
menganggap bahwa pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan. Lahir tahun
1596 M dan meninggal tahun 1650 M. Ia adalah anak ketiga dari seorang anggota
parlemen inggris. Merupakan orang yang taat mengerjakan ibadah menurut ajaran
Katholik, tetapi beliau juga menganut bid’ah-bid’ah Galileo yang pada waktu itu
masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Belajar di College Des Jesuites La
Fleche dari tahun 1604 – 1612 M. Beliau memperoleh pengetahuan dasar tentang
karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Perancis, musik dan akting. Disamping
beliau juga belajar tentang filsafat, matematika, fisika, dan logika. Bahkan,
beliau mendapat pengetahuan tentang logika Aristoteles, etika Nichomacus,
astronomi, dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Dalam
pendidikannya Descartes merasakan beberapa kebingungan dalam memahami berbagai
aliran dalam filafat yang saling berlawanan. Dan pernah masuk tantara Belanda
dan Bavaria. Dan akhirnya ia meninggal di Swedia tahun 1650 M setelah menerima
panggilan Ratu Christine yang ingin belajar kepada dirinya.
Dalam pernyataanyang ia katakan Cogito ergo sum, ia menyatakan bahwa sumber keyakinan itu berasal dari keragu-raguan. Maka dari itu dalam epistemologinya Descartes dengan menggunakan metode analitis dan dengan pendekatan filsafat rasional yang mendahulukan akal ia mengatakan bahwa “ aku berfikir maka aku ada”. Dimulai dengan meragukan apa yang ada, segalanya, akan tetapi ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya yag sedang berfikitr tidak dapat diragukan. Maka dia mengatakan aku berfikir, maka aku ada. Untuk menemukan basis yang kuat dalam bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang diragukan. Mula-mula dia mencoba meragukan semua apa yang dapat di indera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode cogito tersebut. Dia meragukan adanya badaniah sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan Roh halus ada yang sebenarnya ada yang tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Didalam mimpi-mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan ghaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, “ aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk keluar : ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis sama seperti itu, padahal aku ada ditempat tidur, sedang mimpi. “ tidak ada batas yang tegas antara mimpi ( sedang mimpi ) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya sepeti bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga ( yang kita katakana sebagai jaga ini ) sebagaimana kita alami ini adalah kejadian-kejadian yang sebenarnya, jadi bukan mimpi ? tidak ada perbedaan yang jelas antara mimpi dan jaga : demikian yang dimaksud Descartes. Seperti benda-benda dalam halusinasi dan ilusi juga membawa kita dalam pertanyaan : yang manakah sesungguhnya yang benar-benar ada, yang sungguh-sungguh asli ? benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi, benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Dalam mimpi kita melihat dan mengalami benda-benda itu : adakah beda yang tegas antara mimpi dan jaga ? begitulah jalan pemikiran dalam metode cogito. Descertes memulai filsafat dari metode. Metode keraguan ini bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descertes hanya ditunjukan untuk menjelasan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sduatu kepastian di balik sesuatu. Keyakinan itu begitu jelas dan pasti, clear and distinct, dan menghasilkan keyakinan yang sempurna.Spinoza merunjuk kepada idea ini dan memberinya nama adequate ideas, sementara Leibniz merujuk juga dan memberinya sebutan truths of reason.
Dalam metode ini berjalan suatu deduksi yang tegas. Bila Descertes telah menemukan suatu idea yang distinct, maka ia dapat menggunakannya sebagai premise yang dari sana ia mendeduksi keyakinan lain yang juga distinct, seluruh proses penyimpulan itu terlepas dari data empiris keseluruhannya merupakan poroses rasional.
Dalam pernyataanyang ia katakan Cogito ergo sum, ia menyatakan bahwa sumber keyakinan itu berasal dari keragu-raguan. Maka dari itu dalam epistemologinya Descartes dengan menggunakan metode analitis dan dengan pendekatan filsafat rasional yang mendahulukan akal ia mengatakan bahwa “ aku berfikir maka aku ada”. Dimulai dengan meragukan apa yang ada, segalanya, akan tetapi ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya yag sedang berfikitr tidak dapat diragukan. Maka dia mengatakan aku berfikir, maka aku ada. Untuk menemukan basis yang kuat dalam bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang diragukan. Mula-mula dia mencoba meragukan semua apa yang dapat di indera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode cogito tersebut. Dia meragukan adanya badaniah sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan Roh halus ada yang sebenarnya ada yang tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Didalam mimpi-mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan ghaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, “ aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk keluar : ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis sama seperti itu, padahal aku ada ditempat tidur, sedang mimpi. “ tidak ada batas yang tegas antara mimpi ( sedang mimpi ) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya sepeti bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga ( yang kita katakana sebagai jaga ini ) sebagaimana kita alami ini adalah kejadian-kejadian yang sebenarnya, jadi bukan mimpi ? tidak ada perbedaan yang jelas antara mimpi dan jaga : demikian yang dimaksud Descartes. Seperti benda-benda dalam halusinasi dan ilusi juga membawa kita dalam pertanyaan : yang manakah sesungguhnya yang benar-benar ada, yang sungguh-sungguh asli ? benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi, benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Dalam mimpi kita melihat dan mengalami benda-benda itu : adakah beda yang tegas antara mimpi dan jaga ? begitulah jalan pemikiran dalam metode cogito. Descertes memulai filsafat dari metode. Metode keraguan ini bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descertes hanya ditunjukan untuk menjelasan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sduatu kepastian di balik sesuatu. Keyakinan itu begitu jelas dan pasti, clear and distinct, dan menghasilkan keyakinan yang sempurna.Spinoza merunjuk kepada idea ini dan memberinya nama adequate ideas, sementara Leibniz merujuk juga dan memberinya sebutan truths of reason.
Dalam metode ini berjalan suatu deduksi yang tegas. Bila Descertes telah menemukan suatu idea yang distinct, maka ia dapat menggunakannya sebagai premise yang dari sana ia mendeduksi keyakinan lain yang juga distinct, seluruh proses penyimpulan itu terlepas dari data empiris keseluruhannya merupakan poroses rasional.
Setelah fondasi itu di temukan, mulialah ia mendirikan bangunan filsafat diatasnya. Akal itu lah basis yang paling terpercaya dalam berfisafat.
- Pokok-Pokok Pemikiran Rene Descartes
- Cogito Ergo Sum
Cogito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan “aku berfikir maka aku
ada” merupakan sebuah pemikiran yang ia hasilkan melalui sebuah meditasi
keraguan yang mana pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian
pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance. Oleh
karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes memepunyai metode
sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari
filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis.
Cogito dimulai dari metode penyangsian.
Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian
ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki, termasuk juga
kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya bahwa ada suatu
dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa tuhan ada). Kalau terdapat
suatu kebenaran yang tahan dalam kasangsian yang radikal itu, maka itulah
kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu
pengetahuan. Dan Descartes tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berfikir.
Maka, Cogito ergo sum: saya yang sedang menyangsikan, ada Itulah
kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku.
2. Ide-ide bawaan
Karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapar dipercayai, maka menurut Descartes saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya dangan menggunakan norma tadi. Kalau metode dilangsungkan demikian,apakah hasilnya? Descartes berpendapat bahwa dalam diri saya terutama dapat ditemukan tiga “ide bawaan” (Inggris: innate ideas) Ketiga ini yang sudah ada dalam diri saya sejak saya lahir msing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.
a. Pemikiran
Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b. Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna
Karena saya mempunyai ide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempuna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.
c. Keluasan
Materi sebagai keluasan atau ekstensi ( extension ), sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur
3. Substansi
Descartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi: Pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran. Kedua, materi yang hakikatny adalah keluasan. Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk memebuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi saya ide keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan dmikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia materil lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.
4. Manusia
Descartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalam grandula pinealis ( sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, akhirnya pemecahn ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.
- Pengaruh Pemikiran Rene Descartes
Sedikitnya
ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa
yaitu:
- Pandangan mekanisnya mengenai alam semesta.
- Sikapnya yang positif terhadap penjajagan ilmiah.
- Tekanan yang diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan.
- Pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptic.
- Penitikpusatan perhatian terhadap epistemology.
Jadi dengan metode pemikiran Rene Descartes tersebut dapat mengungkap
kebenaran dan membangun filsafatnya untuk keluar dari keraguan bersyarat yang
diperoleh dari pengalaman inderawinya.
- DAFTAR PUSTAKA
http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/, diakses 12 juni 2013.
http://kandangmu.blogspot.com/2012/12/tokoh-filsafat-modern-rene-descartes.html, diakses 12 juni 2013.
http://kandangmu.blogspot.com/2012/12/tokoh-filsafat-modern-rene-descartes.html, diakses 12 juni 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes, diakses 12 juni 2013.
http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/, diakses 12 juni 2013.
http://kandangmu.blogspot.com/2012/12/tokoh-filsafat-modern-rene-descartes.html, diakses 12 juni 2013.
http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/, diakses 12 juni 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar