Kamis, 09 Juni 2016

TEORI EKSISTENSIALISME JEAN-PAUL SARTRE


"Manusia adalah kebebasan yang mencipta secara total, maka ia menyempurnakan dirinya sendiri, ia adalah suatu rancangan untuk masa mendatang. Jadi, kodrat (esensi) manusia tidak mungkin ditentukan, tetapi adalah terbuka sama sekali. Jadi, eksistensi mendahului esensi manusia. Seandainya Tuhan ada, Ia akan merupakan identitas penuh dari Ada dan kesadaran, dari en-soi dan pour-soi." itulah salah satu kutipan Jean-Paul Starte tentang pemikiran eksistensialisme,yang akan kita bahas di sini . Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat, eksistensialisme paling dikenal melalui kehadiran Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free" atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.


A. Biografi Jean-Paul

 
Jean-Paul Sartre lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. Ayahnya perwira angkatan laut Prancis dan ibunya, Anne Marie Schweitzer, anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari Charles Schweitzer, seorang guru bahasa dan sastra Jerman di daerah Alsace. Ayahnya meninggal sesudah dua tahun kelahiran Jean-Paul dan ibu bersama anaknya pulang ke rumah ayahnya, Charles Schweitzer, di Meudon. Sesudah empat tahun mereka berpindah ke Paris (Bertens, 2001:81). Saat diasuh oleh kakeknya, Charles Schweitzer sangat menyayangi cucunya, dan menjaganya tetap di rumah serta memberikan pendidikan sendiri sampai berusia sepuluh tahun. Masa pengurungan ini menguntungkan Sartre karena dapat mengasah daya nalarnya melalui buku-buku studi kakeknya (Munir, 2008 :104).
Di Paris, Sartre menemukan keajaiban bibliothek kakeknya. Di sana, ia hidup karena merasa menjadi pusat perhatian dan pujaan keluarga. Dengan rambut pirangnya yang panjang dan bergelung-gelung, Sartre kecil dengan cepat menyadari sisi tampan dari dirinya. Sampai suatu hari, sang kakek membawa Sartre ke tukang cukur. Dalam Les Mots Sartre menuliskan peristiwa tersebut tanpa eufimisme : ‘Saat diambil dari ibunya dia masih menakjubkan, tetapi saat dikembalikan kepadanya ia menjadi seekor kodok. Itulah Sartre menemukan dirinya ‘Jelek’. Bukan hanya karena matanya juling, tetapi juga karena rupa serta perawakanya membuatnya mirip ‘kodok’. Penemuan dini ini sangat penting bila dikaitkan dengan dua konsep filsaft Sartre yaitu L’autre dan Le regard (Wibowo, 2011 :25). Ketika berusia 17 tahun, Jean-Paul menerima gelar ‘baccalaureate’ (gelar diploma sekolah menengah yang elit) dan ia memulai studi selam 6 tahun di Sorbonne untuk mendapatkan aggregation, ujian yang akan memberinya jalan untuk memasuki karier akademis dalam bidang filsafat. Namun pada tahun 1928 ia gagal dalam aggregation dan mendapatkan peringkat paling akhir di kelasnya (Palmer, 2007:6). Tetapi setahun kemudia Sartre berhasil mendaptkan rangking pertama dalam ujian aggregation-nya, di sini jugalah dia bertemu partner seumur hidupnya, Simone de Beauvoir. Pada masa perang dunia, Sartre bergabung dengan militer Prancis (1939) sebagai seorang meteorologis. Ia ditangkap tentara Jerman di Padoux dan dipenjara selama 9 bulan. Selama menjadi tahanan perang, Sartre berpindah-pindah dari Padoux kemudian ke Nancy, dan terakhir ke Stallag, Treves. Di kota terakhir inilah dia menulis skenario teater pertamanya Bariona, Fills du tonnerre. April 1941, Sartre dibebaskan karena alasan kesehatan. Namun, masa menjadi tahanan itu memberikan makna mendalam bagi Sartre di sepanjang hidupnya. Setelah kembali ke Paris, Sartre bergabung dengan kelompok pergerakan dan menulis di berbagai majalah seperti Les Leteres Francaise dan Combat. Sartre pernah mendirikan review bulanan tentang Sastra dan politik, Les Temps Modernes, dan membaktikan diri sepenuhnya pada kegiatan menulis dan politik (Adian, 2010:69-70).  Tahun 1964, Sartre dianugerahi hadiah nobel untuk bidang sastra. Karena alasan politis ia menolak hadiah tersebut. Jean Paul Sartre meninggal tanggal 15 April 1980. Para dokter berusaha membujuk Simone de Beauvoir yang sangat terpukul oleh kematian Sartre untuk tidak berbaring di atas tubuh Sartre sepanjang malam. Meskipun status intelektualnya dipudarkan oleh kesuksesan Strukturalisme dan post-Strukturalisme, sebagai pribadi ia tetap sangat populer pada saat kematiannya. Jalan-jalan di kota Paris dipadati orang-orang yang menghormatinya dalam jalan menuju pemakaman (Palmer 2007: 17). Lebih dari lima puluh ribu orang hadir dalam iring-iringan dan pemakaman filsuf perancis ini.
 B.     Eksistensialisme
            Sebelum melihat pemikiran Sartre secara lebih mendalam, kita harus mengetahui bagaimana Sartre memberikan dasar bagi sistem filsafat yang dibangunnya. Dasar itu adalah ; ‘eksistensi’. Manusia itu bereksistensi. Dasar yang diberikan Sartre untuk filsafatnya dinamakan eksistensialisme. Walaupun aliran ini sudah berkembang sejak zaman Soren Kiekergard, tetapi Sartre-lah yang memasukan nama Eksistensialisme ke dunia filsafat. 
 
Secara umum ciri aliran eksistensialisme adalah sebagai berikut :     

A. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan  masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
B. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
C. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa. Masyarakat industri cenderung menundukkan orang seorang pada mesin.
D. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
E.   Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
F. Eksistensialisme menenkankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. (Muntansyir:2001, 92)

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala-galanya dengan berpangkalan pada eksistensi. Menurut asal kata eks berarti keluar dan sistensi berarti menempatkan, berdiri. Atau bisa dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara manusia berada di dunia ini. Cara itu hanya khusus bagi manusia, jadi yang bereksistensi itu hanya manusia. (Driyarkara, 2006a:1281-1282)
Sedangkan Menurut Sartre, seorang eksistensialis adalah orang yang percaya dan bertindak berdasarkan dalil berikut, yang berlaku untuk semua umat manusia yaitu ‘eksistensi mendahului esensi’. Apa artinya? Sebelum itu marilah kita membahas pendapat ‘esensi mendahului eksistensi’. Esensi berarti hakikat dari suatu hal, definisi dari suatu hal, ide mengenai suatu hal, sifat dasar atau kodrat, fungsi, dan program. Artinya bahwa dalam benda buatan manusia esensi benar-benar mendahului eksistensi (Palmer, 2007:21).
Contohnya dapat kita lihat dari gunting. Gunting mempunyai ide di dalamnya, yaitu alat untuk menggunting sesuatu. Bila kita menemukan benda, dan itu dapat digunakan untuk menggunting sesuatu, kita dapat menyebutnya gunting. Karena manusia sebagai pembuat benda (gunting) sudah memberikan ide gunting dalam benda yang sekarang kita sebut dengan gunting. Tetapi hal ini tidak berlakuk untuk manusia. Karena tidak ada Tuhan yang menciptakan ide tentang manusia -setidaknya itulah yang dikatakan Sartre.
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Dan sebagai demikian itu maka ia tidak bisa dipertukarkan. Dengan demikian pula maka adanya manusia berbeda dengan adanya hal-hal lain yang tanpa kesadaran tentang adanya sendiri. Dengan lain perkataan bagi manusia eksistensi adalah keterbukaan; berbeda dengan benda-benda yang lain dimana ada itu sekaligus esensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Demikian Sartre menegaskan asas pertama dari ajarannya. Ini berarti pula bahwa bagi Sartre asas pertama sebagai dasar untuk memahami manusia haruslah mendekatinya sebagai subyektivitas. Manusia sebagai pencipta dirinya sendiri tidak akan selesai-selesai dengan ikhtiarnya itu. Sebagai eksistensi yang ditandai oleh keterbukaan menjelang masa depannya, maka manusia pun merencanakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri.
Ini mengandung arti bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apapun jadinya eksistensinya, apapun makna yang hendak diberikan pada eksistensinya itu, tiada lain yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Sebab dalam membentuk dirinya sendiri itu, manusia mendapat kesempatan untuk tiap kali memilih apa yang baik dan apa yang kurang baik baginya. Setiap pilihan yang dijatuhkan terhadap alternatif-alternatif yang ditemuinya adalah pilihannya sendiri; ia tidak bisa mempersalahkan orang lain, tidak pula bisa menggantungkan keadaan pada Tuhan (Hassan,1976:103).
Dalam artian tertentu, definisi Sartre mengenai eksistensialisme hanya meradikalkan pandangan yang sangat umum di antara kebanyakan ahli ilmu sosial : bahwa tidak ada naluri yang menyebabkan tindakan-tindakan tertentu. Dengan begitu manusia tidak menyerupai kucing. Dalam hal ini perilaku yang benar-benar dihasilkan oleh naluri tidak ada pilihan. (Laba-laba penjebak pasti menenun jaring penjebak, dan burung berkicau pasti berkicau). Benar bahwa ada fungsi-fungsi dan reflek-reflek tubuh manusia yang bekerja dalam keharusan daripada dalam kebebasan, tetapi fungsi-fungsi tubuh manusia yang seperti itu tidak pernah menghasilkan tindakan-tindakan manusia sesungguhnya, sebagai contoh adalah perbedaan mengedipkan mata (tindakan manusia) dan berkedip (bukan tindakan manusia sesungguhnya) (Palmer, 2007: 2

   C. Metode Filsafat Sartre ; Fenomenologi,  Mencari Inti Dari Segala Inti
Seperti yang kita kemukakan dalam kerangka berpikir, untuk mencari epistemologi eksistensial Sartre, kita harus mengetahui metode apa yang digunakannya untuk membangun filsafatnya. Metode itu adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Fenomenologi adalah arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Istilah Fenomenologi bertolak dari bahasa Yunani phainomenon (phainomai, menampakkan diri) dan logos (akal budi). Ilmu tentang penampakan berarti ilmu yang menampakan diri ke dalam subyek. Tidak ada penampakan yang tidak dialami. Hanya dengan berkonsentrasi  pada apa yang tampak dalam pengalaman maka esensi dapat terumuskan dengan jernih. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengontaminasai pengalaman konkret manusia. Itu sebabnya fenomenologi disebutcara berfilsafat yang radikal (Adian, 2010: 4-5). Ada dua tahap dalam analisis fenomenologi yang pertama hanya menyangkut deskripsi yang teliti dan terperinci tentang cara dunia menampakkan dirinya sendiri bagi kesadaran dalam semua teksturnya, dalam semua kekasaran serta kehalusannya. Tahap kedua lebih bersifat teknis tujuannya adalah pembentukkan deskripsi prateoritis dari bermacam-macam tindakan kesadaran beserta obyek-obyeknya. Disebut prateoritis karena dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah deskripsi mengenai bermacam-macam tindakan kesadaran, bukan suatu teori mengenai kesadaran (Palmer,2007:34). Tujuan dari tahap pertama adalah untuk memperlihatkan fenomen semurni-murninya. Dalam memandang suatu hal, katakana saja misalnya agama, bahasa, adat istiadat, kita kerapkali penuh dengan pendapat-pendapat dari orang lain. Misalnya dari nenek moyang kita, pemateri ilmu [pengetahuan dan lain sebagainya. Semua ini sudah kita kurung. Semua hubungan dengan luar kesadaran kita kurung. Jadi kita hanya melihat fenomen belaka semurni-murninya. Sedangkan tujuan pada tahap kedua adalah untuk menyaring sampai ke eidos-nya. Sampai ke intisarinya, sampai ke sejatinya atau Wesen-nya. Oleh sebab itu, hasil dari penyaringan ini disebut Wesenchau,  artinya disini kita melihat hakikatnya dari sesuatu. Hanya inilah pengertian yang sebenarnya. (Driyarkara: 2006b,1327). Fenomenologi berjuang membuat filsafat sebagai ilmu yang rigoris. Rigoris disini artinya bebas dari presuposisi yang mendahului pengalaman konkret lalu apakah dengan begitu fenomenologi setali tiga uang dengan empirisme? Jawabannya, tidak. Empirisme masih syarat dengan presuposisi. Locke seorang empiris, misalnya masih mengandalkan adanya substratum material dibalik pengalaman, terlepas dari konisi apparatus  inderawi subyek pengetahuan. Berkeley masih membawa-bawa Tuhan, hanya Hume yang paling mendekati, meski juga belum bias melepaskan diri dari pandangan Newtonian yang deterministik.
Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun. Apakah itu tradisi metafisika, epistemologi atau sains. Fenomenologi adalah upaya hati-hati dalam mendiskripsikan hal ihwal  sebagaimana mereka menampakan diri ke dalam kesadaran. Dengan kata lain, semua persoalan tentang semesta luar harus didekati dengan senatiasa melibatkan cara penampakan mereka pada kesadaran manusia (Adian,2010 : 6&7). Untuk mempermudah kajian tentang fenomenologi, ada satu istilah yang diberikan oleh Maurice Natanson untuk memahami apa itu Fenomenologi: ‘fenomenologi adalah a science of beginnings’. Untuk bisa berfenomenologi orang harus bersikap seperti pemula (beginner). Dalam hal apa? Dalam segala hal! Sebagai contoh andaikan kita melihat tata-krama pergaulan seolah-olah untuk pertama kalinya. Sebagai pemula dalam hal ini, kita akan heran bahwa sistem sopan-santun itu ada. Bersikap sebagai pemula oleh Husserl dirumuskan sebagai reduksi fenomenologis atau epoche. Anggapan bahwa tata Krama itu sudah ada entah di dalam atau di luar kesadaran harus diberi tanda kurung dulu (eingeklammert), dan tata-krama dibiarkan menampakkan diri apa adanya. Yang diperoleh lewat reduksi ini bukan tata krama sebagaimana dipahami osecara ilmiah oleh sosiologi atau etnologi, melainkan sebagaimana dihayati oleh para pelakunya. Dunia yang dihayati sendiri oleh para aktor social inilah yang menjadi objek penelitian fenomenologi (Hardiman, 2003: 22-24).           

   D.   Landasan Filsafat Sartre : Ada dan Ketiadaan
1.      L etre-en-soi  
Dari buku yang ditulis Sartre Being and Nothingness, kita dapat melihat landasan ontologis Sartre dalam membangun filsafat yang menggunkan metode fenomenologi. Dengan dasar-dasar yang sama, tetapi Sartre mendapatkan kesimpulan yang cukup berbeda dari Husserl maupun Heidegger sebagai guru fenomenologinya.
Sebagai landasan ontologisnya, Sartre pertama menyuguhkan konsep L etre-en-soi, apa itu L etre-en-soi ? secara arti, L etre-en-soi berarti being-in-itself atau berada dalam dirinya sendiri.Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita bedah term itu satu persatu. Pertama etre, Driyarkara menjelaskan apa yang dimaksud etre :

‘’Sekarang kita mendekati pikiran Sartre ikutilah paparan berikut, kita mengerti pohon, kita mengerti hewan, kita mengerti manusia dan sebagainya. Semuanya itu berbeda-beda…Jadi kita menyebut dengan nama-nama atau kata-kata yang berbeda karena apa yang disebut juga berbeda-beda…namun, di antara istilah-istilah yang kita gunakan itu ada yang umum, artinya kita gunkaan untuk menyebut barang-barang yang betul-betul berlainan, misalnya kata barang…di samping itu ada kata lain yang umum pula ialah « ada ». Apa saja yang kita jumpai dapat kita sebut ada atau sesuatu yang berada. Nah, ada atau sesuatu yang berada, itu dalam bahasa Sartre disebut Etre.’’ (Driyarkara, 2006a :1304)    
L etre-en-soi menunjuk suatu cara bereksistensi yang tertutup, apa yang ada sepenuhnya identik dengan dirinya sendiri. Ia bersifat tertutup rapat, tanpa lobang, tanpa celah, dan tanpa gerak sedikitpun untuk keluar dari dirinya. di situ tidak terdapat-subjek-objek, sama sekali tidak mempunyai relasi. Oleh Sartre L etre-en-soi disebut ‘ada yang tidak berkesadaran’. Boleh dikatakan ada jenis ini adalah adanya benda-benda, yang berada begitu saja (Siswanto, 1998 : 140).
Lebih jelasnya tentang etre-en-soi itu harus dikatakan : it is what it is. Etre-en-soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak negatif : kategori-kategori macam itu itu hanya mempunyai arti dalam kaitan dengan manusia. Etre-en-soi tidak mempunyai masa silam, masa depan; tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Etre-en-soi itu sama sekali kontingen. Artinya : ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa diciptakan, tanpa dapat dimainkan dari sesuatu yang lain (Bertens, 2001 : 92). Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala yang L etre-en-soi, adalah memuakkan. Mengapa ? Meja, kursi, pohon, dan sebagainya, dalam dirinya bukanlah apa-apa. Benda-benda itu bila kita lihat sebagai de-facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apa pun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak memuakkan (Hadiwijono, 2011 : 159). 
2 .  L etre-pour-soi 
L etre-pour-soi atau ‘ada untuk diri’ menunjuk cara beradanya manusia yaitu pada kesadaran manusia ; sifatnya melebar (co extensive) dengan dunia kesadaran dan sifat kesadaran yang berada di luar diri sesuatu atau seseorang. Dalam kesadaran barulah muncul adanya subjek dan objek. Ada yang sadar menjadi subjek, tetapi dia juga bisa menjadi objek. Jadi seolah-olah di situ ada keduaanya ; subjek berhadapan dengan objek. Yang berupa subjek adalah ‘pengada yang sadar’. Yang berupa objek ialah dia sendiri, sekedar disadari. Tetapi kesadaran itu tidak identik dengan dirinya karena ia hanya berdiri sebagai ‘subjek yang lain’ dan tak terpisahkan dengan dirinya sendiri. Antara subjek yang menyadari dan objek yang disadari selalu terdapat jarak, jarak antara aku dan diriku, inilah yang disebut ‘ketiadaan’ (Siswanto, 1998: 141).
Konsep yang sulit ini dapat dipermudah dengan contoh. Sekarang marilah kita menganggap ada seorang manusia. Berbeda dengan benda-benda lain yang tidak sadar akan keberadaannya. Manusia itu ada, ada berarti dia sadar dengan keberadaanya. Sedangkan manusia yang sadar dengan keberadaannya berarti dia mengetahui sesuatu. mengetahui sesuatu inlah yang disebut Sartre asebagai proses meniadakan sesuatu. Atau dari ‘Ada’ menuju ‘Ketiadaan’. Bagaimana bisa?
Perhatikanlah sekarang, jika manusia sedang dan dalam berbuat, sadar tentang diri sendiri, itu berarti bahwa manusia dengan sadar sedang ada dalam peralihan. Dia sedang mengalih, dia sedang berpindah, dia dalam perjalanan. Sekali lagi dia dengan sadar menjalankan peralihannya itu. Dia beralih, dia mengalih, itu karena sadar tentang diri sendiri. Dia menyadari diri sebagai ini, akan tetapi justru bersama-sama membantah dengan mengalih itu. Jadi, dia berkata ini dan juga membantah, saya tidak mau dan karenanya dia mengalih. Misalnya, seorang mengakui saya ini pencuri. Sedang sadar dan justru karena kesadarannya itu dia membenci sifat pencuri, jadi tidak mau kepencuriannya itu.
Sebetulnya, peniadaan itu terjadi terus menerus, terjadi tak ada berhenti-hentinya, sebab manusia itu tidak pernah berhenti. Dia terus saja berbuat. Setiap perbuatan itu berupa perpindahan. Perpindahan perubahan, karena manusia tidak bisa menghendaki ketetapan dan itu justru karena kesadaranya. Pandanglah sekarang demikian : manusia itu dlaam tiap-tiap perbuatan berubah, mengalih, jadi bergerak ke-. Karena dia sedang berubah, karena dia sedang mengalih ke-, karena dia sedang bergerak ke-, jadi dia belum seperti yang dimaukan. Dia dalam keadaan yang tidak dikehendaki dan keadaan seperti yang dikehendaki belum ada. Jadi dia belum ada. Jadi, yang dikehendaki belum ada dan yang tidak ada tidak dikehendaki. Itulah manusia dalam tiap detik. Jadi dia selalu meniadakan (Driyarkara, 2006a: 1309). Itulah yang dimaksud Ada selalu menuju ketiadaan.
  
     
  E. Epistemologi Eksistensial Sartre, sebuah Analisis          

    1. Kesadaran, kritik terhadap Descartes, Freud, dan Husserl
Sekarang, kita mencoba memasuki pemikiran Sartre tentang epistemologi. Seperti yang dikatakan Sudarminta (2012 : 20) bahwa persoalan epistemology yang bersifat umum antara lain seperti : Apa itu pengetahuan? Apa ciri-ciri hakikinya dan mana batas-batas ruang lingkupnya? Bagaimana proses manusia mengetahui dapat dijelaskan dan bagaimana struktur dasar budi atau pikiran manusia itu bisa dijelaskan sehingga pengetahuan itu mungkin bagi manusia ? apa peran imajinasi dan sebagainya ? itulah yang coba penulis jawab. Setelah melihat dan mensistematisasi pemikiran Sartre, dengan metode dan landasan filosofinya, penulis dapat menyimpulkan bahwa tema besar epistemologi Sartre, berputar pada tema tentang ‘kesadaran’. Kesadaran manusia, adalah faktor penting manusia untuk mengetahui. Sartre dalam pembahasannya mengenai kesadaran, sering memberikan kritik kesadaran yang dilontarakan oleh Descartes dan Husserl.  
Kesadaran, dalam pemikiran Sartre, lebih dieksplisitkan, sehingga ia menyelidiki struktur kesadaran dan akhirnya menemukan bahwa kesadaran harus dibedakan antara kesadaran reflektif dan pra-reflektif.
Kesadaran pra-reflektif diartikan sebagai kesadaran yang langsung terarah pada objeknya, tanpa usaha untuk merefleksikan tindak tindakan tersebut. Misalnya, ketika saya sedang menulis di atas sebuah kertas, kesadaran saya tidak terarah pada kegiatan saya yang sedang menulis itu, tetapi pada apa yang saya tulis-Sartre menyebut kesadaran pra reflektif ini sebagai kesadaran yang tidak disadari. Sedangkan kesadaran reflektif adalah kesadaran pra reflektif menjadi temantik. Artinya kesadaran yang membuat kegiatan pada kesadarannya pra-reflektif menjadi sebuah objek kajiannya, artinya kesadaran saya tidak lagi terarah pada tulisan yang saya buat, tetapi pada kegiatan saya menulis (Adian, 2010: 74).
Maksud dari pembedaan ini adalah untuk menunjukan bahwa Descartes salah, sepeti halnya Husserl. ‘Aku ada’ tidak terjadi karena ‘aku berpikir’. Tidak ada diri dalam pikiran kecuali dalam kesadaran reflektif. Tetapi kesadaran reflektif sesungguhnya lebih jarang daripada kesadaran non reflektif. Mungkin Descartes seharusnya berkata ‘saya berpikir, maka ada pikiran’ (Palmer, 2007:39).
Sartre memahami bahwa kesadaran selalu tentang objek-objek dan dipengaruhi oleh objek-objek tersebut (kesadaran tingkat pertama atau pra-reflektif). Pada tingkat pertama kesadaran ini, kita tidak akan menemukan ego yang melampaui pengalaman, kita hanya menemukan apa yang disebut dengan pengalaman itu sendiri. Kita menemukan ego hanya pada tingkat kedua kesadaran, kesadaran mengenai kesadaran atau kesadaran reflektif. Contohnya, ‘itu adalah aku yang melihat buku di atas meja’. Tapi pada tingkat reflektif ini yang kita temukan hanya ego yang berperan sebagai objek, bukan subjek. Ego sebagai subjek yang sadar dan bebas tidak pernah ditemukan dalam kesadaran, itu adalah sesuatu yang senantiasa mengelak dari objektifikasi sekaligus mendahului kesadaran (Adian, 2010:75).
Pemahanan Sartre tentang ini sekaligus menjadi kritiknya terhadapa gurunya yaitu Husserl, yang memahami kondisi yang memungkinkan pengalaman adalah ego transcendental. Tetapi ego transcendental sendiri bukan bagian dari pengalaman. Pengalaman selalu melekat pada sesuatu yang hadir utuh dan solid. 
Sartre lebih lanjut mengemukakan tiga taraf kesadaran. Pertama, kesadaran bersifat spontan. Artinya kesadaran itu dihasilkan bukan dari ego atau kesadaran lain – kritik terhadap pemikiran ego Sigmund Freud. Ia menghasilkan dirinya sendiri, sesuatu yang berbeda dari benda-benda sehingga tidak menjadi objek hukum kausal. Kedua, kesadaran bersifat absolut. Kesadaran selalu ada bagi dirinya, dan sekaligus pengungkapan intuitif akan sesuatu yang lain dari dirinya. Ketiga, kesadaran bersifat transparan. Artinya, kesadarn mampu menyadari dirinya sendiri.
Ringkasnya, bagi Sartre, kesadaran memiliki dua karakter yang saling berhubungan. Yaitu kesadaran diri dan intensionalitas. Kesadaran diri mengandaikan kesadaran tentang yang lain, karena kesadaran hanya menyadari dirinya saat ia menyadari sesuatu. Sartre merumuskan, ‘sesuatu yang lain’ adalah sesuatu yang bukan kesadaran dan berada di luar kesadaran. Dengan kata lain, objek-objek bersifat independen dari kesadaran dan bukan ‘fenomena’, sebab dalam tradisi fenomenologi kata ‘fenomena’ selalu diartikan sebagai ‘yang menampakan diri pada kesadaran.’(Adian, 2010:77)

2.    Hubungan Subjek, Objek, dan Pengetahuan tentang Tuhan 

Konsep pengetahuan lain, yang penulis temukan dari filsafat Sartre, adalah konsep hubungan subjek dan objek. Konsep ini menjadi pemikiran yang khas bagi Sartre dan sebagai pembeda Sartre dengan para pemikir eksistensialisme lainnya. Hasil dari konsep ini, melahirkan kata-kata Sartre yang terkenal, yaitu “orang lain adalah neraka.”
Sejauh ini kita telah melihat bahwa menurut Sartre ‘diri’ bukanlah entittas substantif yang terus menerus tidak berubah sepanjang waktu. Demikian pula, kepastian absolutnya tidak bisa diasalkan dari kesadaran (seperti yang diyakini Descartes dengan dalilnya “cogito ergo sum”). Diri juga bukan hanya kesatuan biologis, yaitu tubuh manusia, sebagaimana yang diyakini oleh kaum materialis (Karena tidak ada kontinuitas biologis semacam itu. Sel-sel yang membangun kamu delapan tahun yang lalu sudah mati.) ‘diri’ bukanlah sesuatu yang secara otomatis anda peroleh karena memiliki orang tua manusia; sebaliknya, diri adalah pembentukan terus menerus yang setiap saat diciptakan kembali melalui pilihan-pilihan kita (Palmer, 2007:89).
Salah satu kekhususan dalam filsafat Sartre ialah betapa besarnya ia mencurahkan perhatian pada orang lain sebagai kenyataan. Sartre menunjuk pada kenyataan bahwa, betapa orang lain itu selalu dipandang sebagai objek pengamatan kita; orang lain tampil kepada kita dengan perlakuan seolah-olah dia bukan subyek. Padahal orang lain itupun subyek, dan sebagai subyek ia memasuki dunia pribadi kita. Kalau saya bertemu dengan orang lain di suatu tempat, maka saya mengamatinya sebagai pribadi yang menempati dan meyususn dunianya sendiri. Akan tetapi dunia yang dikonstitusikan olehnya itu sebenarnya juga dunia yang akan saya diami sebagai dunia saya sendiri. Munculnya orang lain dalam dunia yang kebetulan saya diami juga itu sekligus berarti monopoli saya atas dunia yang saya diami itu diterjang olehnya.
Misalnya, saya sedang duduk-duduk di taman, tiba-tiba orang lain tampil dan duduk di situ juga. Taman yang tadinya saya hayati sebagai suatu dunia yang saya diami dan bina seniri, dengan segala cita-cita, khayalan dan fikiran-fikiran tiba-tiba saya hayati sebagai dunia yang harus saya diami bersama orang lain (Hassan, 1976: 110).
Bagaimana dengan Tuhan?  Bagi Sartre Allah, hanyalah konsep mengenai orang lain yang diarik sejauh-jauhnya sampai ke batas. Dan itu di awali dari hubungan subjek dengan objek yang menimbulkan rasa malu. Malu bukanlah satu-satunya emosi yang disebabkan oleh perjumpaan dengan orang lain. Perjumpaan dengan orang lain juga dapat mengalami rasa takut. Sebenarnya, menurut asasl usulnya, takut muncul ketika saya menemukan berada sebagai objek yang terlihat. Hal itu memperlihatkan bahwa berada-bagi-diri-sendiri ditansendekan oleh kemunkginan-kemungkina yang buakn kemungkinan saya. Menurut Sartre perasaan –perasaan itu dalam bentuknya yang paling dilebih-lebihkna menjadi sumber agama. “Malu di hadapan Allah adalah pengakuan akan berada sebagai objek saya di hadapan subjek yang tidak peranh dapat menjadi objek”

3.      Imajinasi dan Pengetahuan
Sarter memahami bahwa imajinasi adalah cara khusus membuat objek-objek hadir. Semula Sartre membedakan sejumlah fitur khusus dari kegiatan imajinasi sebagai bentuk kesadaran yang “kuasi-pengamatan”. Artinya, aktivitas kesadaran ini melampaui apa yang sebenarnya diberikan melalui persepsi. Lebih lanjut, bentuk kesadrran ini hanya memebrikan saru sisi parsial objek, setelh itu barulah objek berbentuk serangkaian profil atau abschattungen.
Menurut Sartre, objek-objek imajibasi seakan-akan dinodai oleh semacam ketiadaan. Sartre mengklaim bahwa pada persepsi, kita menangkap objek secara serial dan berbentuk profil, di sisi lain, pada tindak konsepsi, kita menangkap objek secara langsung dan secara keseluruhan. Di sini ia berusaha menunjukan perbedaan proses persepsi dan imajinasi secara radikal.
Imajinasi dan persepsi merupakan bentuk aktivitas kesadaran. Di sisi lain, dua aktivitas kesadaran ini juga membawa kesadaran kepada diri mereka sendiri. Persepsi lebih menekankan objeknya sebagai “benar-benar ada”. Sementara, imajinasi berfokus pada sebuah absensi tindak persepsi, atau dengan kata lain sebagai non-Ada. Imajinasi sengan senfirinya menunda penilaian tetnang apkah sebuah objek benar-benar ada atau tidak. Ringkasnya, menurut Sartre, persepsi menekankan objek sebagai yang ada, sedangkan objek imajinasi meliputi objek yang tidak ada (kuda terbang) dan tidak diandaikan sebagai yang ada.
Sartre mengklaim, pada aktivitas imajinasi, suatu objek menunjukan kesadaran langsung dari ketiadaan. Sartre memberikan catatan bahwa pada tindak imajinasi kita tidak pernah benar-beanr menipu diri  kita sendiri secara penuh, sehingga kita menjadi percaya bahwa objek yang dibayangkan benar-benar ada. Di sini, Sartre mengadopsi pengertian Husserl tentang keterberian objek pada tindak persepsi. Ini menjelaskan mengapa Sartre mengklaim bahwa bentuk objek Imajinasi pada tingkat tekstur yang intim sama sekali berbeda pada tindak persepsi yang masih berbentuk keterberian-menjelaskan sebuah pasivitas.
Objek yang dipresepsi memiliki ketakterbatasan yang tersirat pada setiap tindak actual persepsi. Sementara objek yang diimajinasikan sesungguhnnya agak terbatas, tidak pernah sepenuhnya sendiri, sehingga memiliki sebuah kemiskinan yang esensial. Dalam hal ini Sartre memperluas pandangn Husserl yang menyatakan bahwa aktivitas imajinasi, berbenda dengan persepsi (objek hadir dianggap in propria persona) mengakui keabsenan objek.
Dengan demikian Sartre membuat klaim yang kuat bahwa gambaran yang diberikan dalam tindak imajinasi tidak pernah dapat menjadi sumber pengetahuan. Pengertian kemiskinan esensial pada gambar atau objek imajinasi berarti bahwa kita menemukan gambar hanya pada apa yang kita letakkan di sana-pada tindak imajinasi itu sendiri. Jika saya membayangkan gedung parlemen, saya tidak memperoleh pengetahuan dari penghitungan seberapa besar gedung parlemen bukan bentuk kepudaran dari versi asli gedung parlemen, keduanya buksn quasi objek, keduanya bukan objek sama sekali-melainkan hanya sebentuk kekosongan. Menariknya, dalam analisis ini, Sartre secara implisist menolak sebuah ide sentral metodologi Husserl, yaitu bahwa melalui variasi imajinatif, kita bisa sampai pada kebenaran penting yang baru tentnag suatu objek.
Sarte menyangkal bahwa kita memperoleh pengetahuan baru dari imajinasi dan sekaligus membuatnya bertentangan dengan Husserl yang menyatakan bahwa kita telah mendapatkan pengetahuan baru dari kontemplasi bentuk-bentuk aktivitas kesadaran. Sartre menyatkan dengan tegas if I amuse myself by turning over in my mind the image of a cube, if I pretend I see its different sides, I shal be no further ahead at the close of the process than I was at beginning : I have learnt nothing.
Menurut Sartre, meskipun kita mengankap gambaran dalam sebuah tindakan quasi pengamatan, kita tetap tidak belajar apa-apa dari hal tersebut. Sartre menegaskan bahwa sikap saat berimajinasi memang merupakan salah satu pengamatan, tapi itu sebuah pengamatan yang tidak menagajarkan apa-apa selain sebuah penegasan kekosongan. Sartre memberikan sebuah contoh yang gamblang. Jika Anda membayangkan sebuah halaman dari sebuah buku, Anda mengasumsikan sikap pembaca, Anda seolah melihat halaman yang dicetak. Akan tetapi, sebenarnya anda tidak sedang membaca. Dan, sebenarnya anda bhakan tidak melihat, karena anda sudah tahu apa yang tertulis di sana. Dengan demikian, tidak ada pengetahuan baru dari objek imajinasi (Adian, 2010 :87-89).
 
F.     Daftar Pustaka

Adian, Donny Gahral, 2010, Pengantar Fenomenologi, Depok : Koekoesan
Bertens, K, 2001, Filsafat Barat Kontemporer: Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driyarkara, Nicolas, 2006a, Eksistensialisme, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama________, 2006b, Fenomenologi, dalam Sudiarja dkk, Karya Lengkap Driyarkara, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Hadiwijono, Harun, 2011, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta : Kanisius
Hardiman, F. Budi, 2003, Heidegger dan Mistik Keseharian, Jakarta : KPG
Hassan, Fuad, 1976, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Jakarta : Pustaka Jaya
Philosophyresearcher.com/2013/08/epistemologi-eksistensial-dalam.html
Munir, Misnal, 2008, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer, Yogyakarta : Lima
Muntasyir, Rizal, & Misnal Munir, 2001, Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Palmer, D, Donald, 2007, Sartre untuk Pemula, Yogyakarta : Kanisius
Siswanto, Joko, 1998, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar 
Sudarminta, J, 2012, Epistemologi Dasar, Yogyakarta :Kanisius
Wibowo, A. Setyo, 2011, Eksistensi Kontingen, dalam R. Sani Wibowo, B.C Triyudo, Benny Beatus, dkk (Ed), Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Yogyakarta : Kanisius

Kamis, 14 April 2016

ARTHUR SCHOPENHAUER







RIWAYAT HIDUP ARTHUR SCHOPENHAUER 

Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang GdaÅ„sk) putra dari Heinrich Floris dan Johanna Schopenhauer.  Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan keluarga bangsawan. Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prussia menguasai kota Danzig tahun 1793. Pada tahun 1805, ayah Schopenhauer bunuh diri dan, ibunya pindah ke Weimar. Kepergiannya ke sana untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Setahun kemudian, Schopenhauer meninggalkan bisnis keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya.
  Schopenhauer menjadi mahasiswa di Universitas Göttingen pada tahun 1809. Dia belajar tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gotlob Ernest Schulze, penulis buku Aenesdemus, yang mengajurkannya agar dirinya berkonsentrasi pada Plato dan Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dai Johann Gottlieb Fiechte,  seorang filsuf post Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich Schleimachher. Pada tahun 1813, wabah kolera menyerang Berlin dan Schopenhauer tinggal di kota itu, lalu menetap di Frankfrut tahun 1833. Pada saat itu, dia telah berusia 27 tahun. Dia tinggal sendirian di Frankfrut  dengan binatang kesangannya Atman dan Butz. Pemikiran yang paling menonjol di sepanjang hidupnya adalah Senilia. Judul ini diterbitkan sebagai penghargaan kepadanya. 

PEMIKIRAN ARTHUR SCHOPENHAUER
 
Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Budha dan Kant sehingga di ruang kerjanya dipasang dengan kedua patung tokoh tersebut. Imanuel Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak"

Pada tahun 1833 dia hidup sebagai bujang kaya berkat warisan orangtuanya. Dia hidup dengan ketakutan kerena dia merasa terancam, maka dia sering tidur dengan pistol di sampingnya. Dia menulis buku pertamanya, On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason. Ia banyak menerbitkan tulisan, namun tidak laku dijual. Dia sendirilah yang membeli buku karya tulisannya untuk disimpan. Beberapa tahun menjelang akhir hidupnya, barulah ia terkenal. Buku yang disimpannya itu diedarkannya. Schopenhauer hidup sendiri. rencana pernikahannya selalu berantakan Dia menganggap hidup dengan banyak orang memuakkan dan membuang waktu baginya. Ia menghina dan mengejek kaum wanita sebagai “para karikatur”

 Terlahir dalam kelurga yang kaya, Schopenhauer sering berpergian ke beberapa negara di Eropa dan sering berpindah-pindah tempat tinggal. Namun, pada tahun 1805 ayahnya meninggal dengan cara bunuh diri, dan akhirnya Schopenhauer ikut bersama ibunya pindah ke Weimar. Empat tahun setelah ayahnya meninggal, Schopenhauer meninggalkan bisnis keluarganya dan memilih untuk kuliah di University of Gottingen dibidang kedokteran kemudian mengambil filsafat. Disinilah ia mulai mengenal dan mempelajari pemikiran Plato dan Immanuel Kant. Selain kuliah di Gottingen, Schopenhauer juga kuliah di University of Berlin. Dari dua universitas tersebut, Schopenhauer mempelajari berbagai ilmu seperti fisika, psikologi, astronomi, zoologi, arkeologi, fisiologi, sejarah, sastra, dan syair.

FILSAFAT ARTHUR SCHOPENHAUER
Yang khas dari filsafat Schopenhauern adalah kejelasan dan konkretnya. Ia mengajarkan kita untuk memulai berfilsafat secara langsung, yakni dari diri kita sendiri dan bukan dari objek luar ( materi ). Kita tidak pernah sampai pada hakekat benda – benda dari ketiadaan. Semakin kita menyelidikinya semakin kita sadar bahwa kita tidak mungkin mencapai sesuatu pun selain citra-citra dan nama-nama. Kita seperti manusia yang berputar-putar secara sia-sia mengelilingi sebuah benteng untuk mencari pintu gerbang. Namun, karena pintu itu tidak ditemukan, maka kita membuat seketsa pada mukanya, oleh sebab itu marilah kita masuk saja ke dalam. Kalau kita mampu menemukan hakikat jiwa kita sendiri, kita mungkin akan mempunyai kunci untuk membuka pintu dunia luar. Dunia Sebagai Kehendek :
 
1. Kehendak untuk Hidup

 
Kesadaran dan intelek pada dasarnya hanya merupakan permukaan jiwa kita. Di bawah intelek terdapat kehendak yang tidak sadar, suatu daya atau kekuatan hidup yang abadi, suatu kehendak dari keinginan yang kuat. Intelek kadang-kadang memang mengendalikan kehendak, tetapi hanya sebagi pembantu yang mengantar tuannya.Kita tidak menginginkan suatu benda karena kita mempunyai alasan rasional untuk benda itu, melainkan kita mempunyai alasan yang bisa dibuat rasional karena kita menginginkan benda itu. Jadi, intelek adalah keinginan
Manusia kelihatannya saja ditarik dari depan, sebenarnya, mereka didorong dari belakang. Mereka mengira dibimbimng dari oleh apa yang mereka lihat; kenyataanya, mereka didorong oleh apa yang mereka rasakan-yakni naluri – naluri yang beradanya tidak mereka sadrai.
Intelek dirancang untuk mengetahui hal – hal yang bersangkut –paut dengan kehendak. Kehendak adalah satu-satunya unsur yang permanen di dalam jiwa. Kehendak merupakan pemersatu kesadaran, ide-ide dan pemikiran-pemikiran, serta mengikatnya dalam satu kesatuan yang harmonis. Kehendak adalah pusat organ pikiran. Gerakkan tubuh merupakan objektifitas dari tindakkan kehendak.


2. Kehendak untuk Reproduksi

 
Setiap organism normal pada saat mencapai tingkat dewasa, segera mengorbankan dirinya untuk menjalankan tugas reproduksi. Reproduksi adalah tujuan utama dan naluri yang paling kuat dari setiap organism, karena dengan cara itu kehendak menaklukan kematian. Hokum daya tarik seksual adalah bahwa pemilihan pasangan hidup sebagian besar ditentukan oleh kecocokkan di antara orang yang berpasangan untuk beranak pinak.
Dalam banyak kasus, jatuh cinta bukanlah masalah hubungan cinta timbal-balik antara dua manusia. Masalah pokoknya adalah keinginan untuk memiliki apa yang tidak mereka punyai. Sesungguhnya tidak ada perkawinan yang mendatangkan malapetaka, kecuali perkawinan karena cinta. Alasanya cukup jelas, bahwa tujuan utama perkawinan adalah perpanjagan spesies, dan bukannya kesenagan individu. Cinta adalah penipuan-diri yang diperaktekkan oleh alam.
Karena nafsu tergantung pada ilusi yang mempunyai nilai untuk spesies dan untuk individu, maka penipuan pasti hilang setelah tujuan spesies tercapai. Hanya dalam ruang dan waktu kita kelihatan seperti mahluk – mahluk yang berbeda, unik, dan terpisah satu sama lain. Namun ruang dan waktu adalah alam maya, ilusi yang menyembunyikan benda-benda. Kenyataannya, hanya ada satu spesies, satu kehidupan, satu khendak.
Setiap orang secara a priori (prasangka ) merasa dirinya sangat bebas dan mengira bisa melakukan apa saja, bahkan untuk mengubah prilaku dan cara hidupnya, atau untuk menjadi orang lain yang lebih baik. Akan tetapi, secara a postriori ( pengalaman ), ia menjadi terheran-heran, bahwa ternyata dirinya tidak bebas, melainkan tunduk pada keniscayaan; setelah berpikir keras, ia mulai sadar bahwa ternyata ia sama sekali tidak mengubah tindakkan atau cara hidupnya, ia harus menjalankan watak yang sebetulnya ia sendiri benci, dan terus memainkan peran itu sampai akhir hayatnya.

3. Kehendak sebagai Kejahatan 
Jika dunia merupakan kehendak maka dunia adalah dunia penderitaan.Alasannya,kehendak mengisyaratkan keinginan,dan apayang diinginkan selalu lebih besar dan lebih banyak daripada apa yang diperoleh. Keinginan selalu tidak berhingga, sedangkan pemenuhannya selalu terbatas. Hidup adalah kejahatan karena segera setelah keinginan dan penderitaan hilang dari manusia, maka kebosanan menggantikan tempat keinginan dan penderitaan.Bertambahnya pengetahuan bukan berarti bebas dari penderitaan , melainkan justru memperbesar penderitaan.
Manusia yang berbakat jenius adalah manusia yang paling menderita. Oleh sebab itu, orang yang berusaha meningkatkan pengetahuannya, sama berusaha meningkatkan kesengsaraannya.sesungguhnyalah bahwa jauh lebih menderita karena pikiran tentang kematian (masa depan) dari pada kematian itu sendiri. Hidup adalah penderitaan karena hidup adalah peperangan. Setiap spesies bertarung, bahkan dengan cara melawan dirinya sendiri, untuk memperebutkan materi, ruang, dan waktu. Agar hidup bahagia, maka hiduplah seperti anak-anak. Anak-anak mengira bahwa kehendak dan usaha merupakan kenikmatan; mereka belum menemukan keserakahan dari keinginan dan kurangnya pemenuhan kebutuhan; mereka belum merasakan sakitnya kekalahan. Akan tetapi, apa boleh buat, hidup memang penderitaan, karna kita tidak bisa menjadikan diri kita sebagai anak-anak kembali. Kesangsaran dan persilihsihan akan terus – menerus ada setelah matinya individu, dan harus terus ada, sejauh kehendak adalah factor dominan dalam manusia. Tidak ada kemenagan atas penyakit kehidupan, sampai kehendak ditundukan oleh pengetahuan dan intelengensi.

 
KEBIJAKSANAAN HIDUP

 Filsafat
Ø

Kehidupan yang sepnuhnya dicurahkan untuk mengejar kekayaan pada prinsipnya adalah kehidupan yang tidak berguna, kecuali kita tahu bagaimana kekayaan itu diubah menjadi kenikmataan. Seorang manusia yang tidak mempunyai kebutuhan mental dinamakan tidak berbudaya; ia tidak tahu apa yang harus dilakuakan dengan waktu luangnya; ia bingung mencari sensai-sensai baru dari satu tempat ke tempat lain; dan akhirnya ia ditaklukan oleh kebosanan yang selalu membayanginya. Jadi, bukan kekayaan melainkan kebijaksanaanlah yang merupakan jalan. Manusia adalah mahluk yang berkehendak yang sumbernya terdapat di sisitem reproduksi ), dan baru kemudian sebagai subjek dari pengetahuan murni ( yang sumbernya adalah otak ).
Semakin kita mengenal nafsu kita, semakin kurang kita dikauasi oleh nafsu-nafsu dan tidak ada yang bakal melindungi kita dari paksaan dan kekuatan luar, selain control dari diri kita sendiri. Yang paling mengagumkan dari yang mengagumkan bukanlah penaklukan dunia, melainkan penkalukan atas diri sendiri. Filsafat, pada akhirnya, berfungsi sebagai alat memirnikan kehendak, akan tetapi filsafat harus dimengerti sebagi pengalaman dan pemikiran, buakan sebagi pembacaan atau studi pasif.
Kebahgian kita tergantung apa yang ada dalam pikiran kita, bukan apa yang kita miliki didalam kantong kita. Jalan keluar dari kejahatan kehendak adalah renungan atau kontempalsi yang cerdas tentang kehidupan. Begitu banyak manusia yang tidak pernah sanggup untuk tidak mengamati apapun kecuali sebagai objek-objek kajian- dan oleh sebab itu, mereka sengsara. Maka, amatilah hal apapun sebagai objek-objek pemahaman.


 Jenius
Ø
 
Jenius adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan yang tidak banyak unsure kehendaknya. Jenisu adalah objektifitas yang paling lengkap. Jenius adalah daya atau kekuatan yang meninggalkan kepentingannya sendiri, menghapus keinginan dan tujuannya sendiri, menunda kepribadiannya untuk sementara waktu sehingga bisa menjadi subjek yang sungguh-sungguh bisa mengetahui, dan visinya tentang dunia jelas.
Manusia jenius mempunyai kompensasi, kepuasan yang diperoleh dari semua keindahan, hiburan yang didapatkan dari seni, dan antuisme dari seniaman, semua itu membuat ia lupa pada susahnya kehidupan. Itu semua adalah bayaran untuk jernihnya kesadaran dan untuk kesendirinya yang hening di antara berbagai ras manusia bermacam-macam.
Akan tetapi, konsekuensinya, jenius terpaksa hidup dalam isolasi, dan kadang-kadang dalam kegilaan. Perasaannya yang amat sensitive, dipadukan dengan imajiansi dan intuisinya, ditambah dengan kesendirian dan ketidakmampuannya untuk beradptasi, membuat jiwanya terputus dari kenyataan.


 Seni
Ø


Objek ilmu adalah hal universal, yang berisi banyak hal yang partikuler. Objek seni adalah hal partikuler, yang berisi sesuatu yang universal. Sebuah karya seni dikatakan berhasil kalau ia menghadirkan ide platonic, atau universal. Oleh sebab itu, seni lebih agung dari ilmu karena ilmu dijalankan dengan akumulasi dan penalaran yang kerasa dan hati-hati, sedangkan seni mencapai tujuannya lewat intuisi dan presntasi. Ilmu berdampingan dengan bakat, seni berdampingkan dengan jenius.
Kekuatan seni untuk mengakat kita pada keabadian, terutama dimiliki oelh music. Seni-seni lain adalah tiruan dari ide, sedangakan music adalah tiruan dari kehendak itu sendiri. Music mempengaruhi perasaan kita secara langsung, tanpa medium ide-ide.


 Agama
Ø

Pada mulanya agama digambarakan sebagai metafisik dari manusia-manusia yang bergerombol. Tetapi, kemudian dilihat makna yang terkandung di dalam praktek-praktek dan dogma-dogma agama.

KEBIJAKSANAAN DARI KEMATIAN DAN TRAGEDI PEREMPUAN
 
Melalui nirwana individu meraih kedamaian tanpa kehendak, dan menemukan pembebasan. Akan tetapi, setelah individu merasa damai dan bebas, kemudian apa? Hidup membawa individu pada kematian, tetapi hiduppun akan menghidupi anak cucu itu, atau anak cucu individu-individu lain. Maka, dapatkah umat manusia diselamatkan? Adakah nirwana untuk semua umat manusia atau untuk sebuah ras, disamping untuk individu?
Jelas, bahwa satu-satunya penaklukan akhir dan radikal atas kehendak adalah menghentikan sumber kehidupan, yakni kehendak untuk reproduksi. Kepuasaan yang timbul akibat dorongan reproduktif harus dikutuk karena kepuasan seperti itu merupakan penegasan yang paling kuat atas nafsu untuk hidup. Beranak pinak, dengan demikian, bisa disebut dengan kejahatan!
Dan, yang terutama melakukan kejahatan itu adalah perempuan. “karena, ketika pengetahuan telah samapi pada tiadanya kehendak, pesona yang bodoh dari perempuan yang menggoda lagi laki-laki untuk beranak pinak. Anak-anak muda tidak cukup cerdas utnuk melihat betapa singkatnya pesona perempuan tersebut, dan ketika akal sehat mulai berfungsi lagi, ia sudah lama terperosok.
Oleh sebab itu, semakin kurang kita berhubungan dengan perempuan, semakin baiklah hidup kita. Hidup terasa lebih aman, lebih menyenangkan lebih halus tanpa perempuan. Biarkan para lelaki memahami jerat yang dipasang pada kecantikan perempuan, maka komedi absurd reproduksi (pasti) akan berakhir. Perkembangan intelegensi akan memperlemah kehendak untuk bereproduksi, dan dengan demikian suatu ras akan punah. Dan, dengan begitu, penderitaan hidup akan berakhir.
EVALUASI KRITIS ATAS PEMIKIRAN SCHOPENHAUER 
 
Tanggapan terhadap pemikiran Schopenhauer akan berkisar pada dua hal : diagnose medis terhadap zaman dan manusianya sendiri. Diagnose terhadap manusianya bisa dimulai dari pengakuan Schopenhauer, bahwa kebahagian manusia tergantung pada keberadaannya, dan bukanlah pada lingkungan luarnya. Pesimisme adalah tuduhan yang dilancarkan oleh orang yang pesimis. Dari keadaan jasmani yang sakit dan jiwa yang neurotic, dan kehidupan waktu senggang yang kosong dan suasana hati yang muram, muncullah fisiologi filsafat Schopenhauer.
Nirwana adalah cita-cita dari seorang manusia yang tampah gairah, yang memulai hidupnya dengan menginginkan terlampau banyak hal, dengan mengejar satu skala dalam satu nafsu. Dan kemudian, setelah nafsunya hilang, menghabiskan sisa hidupnya dalam kebosanan yang tampah gairah dan lekas marah. Kalau intelek muncul sebagai pelayan kehendak, maka sangat mungkin bahwa hasil dari intelek tersebut (yakni, filsafat Schopenhauer) adalah tirai dan apologi dari kehendak yang sakit dan lamban. Dan tidak diragukan lagi bahwa pengalaman awalnya dengan perempuan dan laki-laki mengembangkan satwa sangka dan sensfitas yang abnormal, sebagaimana Stendhal, Flaubert, dan Nietzsche. Ia menjadi sinis dan soliter. Ia menulis : “seorang sahabat yang hadir hanya jika perlu sesuatu, sessungguhnya bukanlah seorang sahabat; ia hanyalah seorang tukang pinjam” dan, “janganlah bercerita kepada teman sesuatu yang akan kau sembunyikan dari musuh.”
Tentu saja ada unsure egotism dalam pesimisme : dunia tidak cukup baik buat kita, dan lalu kita menutup mata, hidung, dan telinga kita dengan berfilsafat. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan kenyataan sesungguhnya. Seperti yang diungkapkan oelh Spinoza, “segala puja dan puji dan caci maki moral kita, tidak relevan diterapkan pada cosmos (dunia) sebagai suatu keseluruhan.”
Salah satu sebab dari pesimisme, baik pada Schopenhauer maupun pada zamannya, terletak pada sikap-sikap dan pengharapan-perngharapannya. Pemujaan dan pembebasan yang romantic untuk perasaan, naluri dan kehendak, serta caci maki romantic pada intelek, pembatasan, keteraturan, justru membalik menghukum mereka.
Orang sehat tidak menuntut kebahagiaan yang sama banyaknya dengan kesempatan untuk menggunakan kemampuan-kemampuannya; dan kalau ia harus membayar hukuman untuk kebebasan dan kekuatannya, ia akan membayar dengan senang hati; hukuman itu tidak terlampau mahal bagi dirinya.
Apakah kesenangan merupakan hal yang negative? Hanya jiwa yang terluka, yang menarik diri dari perhubungan dengan dunia, yang menghujat kehidupan. Apakah kesenangan kita merupakan perbuatan yang tidak selaras dengan naluri-naluri kita? –dan apakah dengan menarik diri kita mendapat kesenangan lain yang tidak negative? Kesenangan dari menarik diri atau melarikan diri, dari kepatuhan dan keamanan, dari kesendirian dan ketenangan, adalah sesuatu yang negative, karena naluri-naluri yang memaksa kita untuk berbuat demikian adalah negative. Padahal, kehidupan itu sendiri adalah sesuatu kekuatan yang positive, dan setiap fungsi dari bagian-bagian kehidupan yang menjanjikan kesenangan yang tak terkira.
Adalah betul bahwa kematian sangatlah mengerikan. Namun, terror kematian akan hilang begitu kita hidup secara normal: ”orang harus hidup secara benar, agar mati secara benar.” Pesimisme pada prinsipnya berhubungan dengan usia.
Ada kesulitan lain, yang meskipun kurang vital tetapi cukup teknis dalam filsafat Schopenhauer yang luar biasa dan menarik itu.
Akan tetapi, haruslah diakui keberanian dan kejujuran yang disuarakan filsafat Schopenhauer, yang barangkali tidak akan kita temukan didalam kepura-puraan filsafat yang optimistic.
Yang sangat mengesankan adalah kemampuan Schopenhauer dalam membuka mata para Psycholog pada kekuatan naluri yang paling dalam, halus, dan “ada dimana-mana”. Intelektualisme –yakni konsepsi terhadap manusia sebagai hewan yang melulu berpikir, hewan yang mampu menggunakan rasio atau intelek dalam mengejar setiap tujuan hidupnya –jatuh sakit bersama Rousseau, terbujur kaku bersama Kant, kehilangan jiwa bersama Schopenhauer.
Akhirnya, meskipun mungkin agak berlebihan, Schopenhauer berhasil mengajarkan kepada kita tentang keniscayaan jenius dan nilai seni. Ia melihat bahwa kebaikan yang tertinggi adalah keindahan dan bahwa kenikmatan yang paling mendalam terletak pada penciptaan karya seni dan kesenangan pada yang indah. Bersama Goethe, dan Charlyle, ia menentang usaha Hegel, Marx dan Buckle untuk menghapus jenius sebagai factor pundamental dalam sejarah manusia; dalam suatu zaman ketika semua orang besar hendak dikubur, ia justru mengajarkan sekali pemujaan para pahlawan. Dan, dengan segala kegagalannya, ia berhasil menambahkan nama lain pada mereka.

KEHENDAK UNTUK BERKUASA DAN MANUSIA UNGGUL : FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCHE

 
Nietzsche mengembangkan filsafat etika berdasarkan teori evolusi. Baginya, kalau hidup adalah perjuangan untuk bereksistensi-dimana melangsungkan kehidupannya-maka kekuatan adalah kebijakan yang utama dan kelemahan adalah keburukkan yang memalukan.
Hidup adalah medan laga tempat seluruh mahluk bertarung agar bisa terus melangsungkan hidupnya. Dan dalam pertarungan yaitu kehidupan tersebut, kita tidak memerlukan kebaikan melainkan kekutan; yang dibutuhkan dalam hidup bukanlah kerendahan hati melainkan kebanggan diri; bukanlah altruism, melainkan kecerdasan yang amat tajam. Dan hokum kehidupan bukanlah hokum yang dibuat oleh manusia, melainkan hokum yang dibuat oleh alam.


Kisah hidup Nietzche
Ayah Nietzsche adalah seorang pendeta terkemuka. Ibunya adalah seorang penganut Kristen yang taat. Kematian ayahnya yang masih relatif muda, membuat pola asuh ibunya lebih dominan.
Dalam diri Nietzsche terdapat semangat, kehormatan, dan kebanggaan. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk mencari perlengkapan fisikal dan intelektual. Agar maskulinitas yang diidealkan sekali semakin kokoh dan kuat. Pada usia ke 18, ia kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Ia menemukan Tuhan yang baru dalam manusia unggul.
Pada tahun 1865, ia menemukan karya Schopenhauer, “dunia sebagai kehendak dan gagasan”. Warna gelap filsafat Schopenhauer menanamkan kesan medalam pada jiwanya. pada usia ke 23, ia bergabung dengan angkatan bersenjata untuk berperang. Akan tetapi, akibat jatuh dari kuda, yang membuat ia terluka dan tidak pernah sembuh, ia harus meninggalkan kesatuannya. Dari kehidupan militer yang keras, ia lalu beralih ke kehidupan yang berlawanan –kehidupan akademis sebagai seorang ahli bahasa.
Pada usia ke 25 tahun, ia ditunjuk sebagai pimpinan fisiologi klasik di Universitas Basle. Seiring waktunya, ia tertarik pada musik. Ia sering memainkan piano, dan menulis beberapa soneta. pada tahun 1869, Nietzsche diunfang berkunjung dan merayakan Natal di tempat tinggal seorang raksasa music, Richard Wagner. Namun, pada saat kesuksesannya didunia seni, filsafat ia dipanggil kembali ke negerinya sebagai anak bangsa yang taat. ia pun kembali berperang dan untuk pertama kali ia melihat kehendak untuk hidup yang paling kuat dan paling tinggi. Tidak diekspresikan dalam bentuk perjuangan yang menyedihkan untuk kelangsungan hidup, melainkan dalam bentuk kehendak untuk berperang, kehendak untuk berkuasa, dan kehendak untuk berada diatas kekuasaan. Pada akhirnya ia menjadi perawat di negerinya, karena ia memiliki jiwa seorang gadis dalam baju-baja seorang prajurit perang.
 
Nietzsche dan Wagner
 
Awal tahun 1872, Nietzsche mempublikasikan buku pertamanya “The birth of tragedy out of the spirit of music”. Tak pernah ada seorang fisiologpun yang berbicara sedemikian liris, ia berbicara tentang dunia dewa dalam kesenian yunani, yang dipuja oleh orang-orang yunani kuno :
 
1. Dyonysius yakni dewa anggur dan dewa pesta pora. Dewa kehidupan yang ekstratis. Dewa Inspirasi, Emosi, dan Naluri. Dewa pertualangan dan penderitaan. Dewa Musik, tarian, dan drama
2. Dewa Apollo
Dewa yunani kuno adalah kesatuan dari dua cita-cita, yakni kekuasaan maskulin Dyonysius yang perkasa dan keindahan feminim Apollo yang lembut.
 
 Manusia Unggul
  
Calon manusia unggul membutuhkan peningkatan kecerdasan dari segala bidang. Energi, intelek, dan kehormatan/kebanggan diri ini yang membuat Manusia Unggul. Hal yang baik yang dimiliki manusia unggul adalah :
1. Mendisiplinkan diri
2. Berbuat keras terhadap diri sendiri
3. Manusia yang tidak ingin jadi komponen masa
4. Berhentilah memanjakan diri sendiri
5. Harus mempunyai tujuan yang baik.

Manusia Unggul tidak lahir oleh alam, melainkan proses biologi yang tidak adil terhadap individu-individu yang luar biasa. Alam sangat kejam pada produknya yang paling baik, alam lebih mencintai dan melindungi manusia yang sedang-sedang saja. Manusia Unggul dapat hidup dan bertahan hanya melalui seleksi manusia, melalui perbaikan kecerdasan dan pendidikan yang meningkatkan derajat dan keagungan individu-individu
.

Referensi :
http://psychoexpo.blogspot.co.id/2010/05/kehendak-buta-filsafat-arthur.html

Jumat, 01 April 2016

RENE DESCARTES






  •  Pemikiran Dan Biografi Rene Descartes  
Rene Decartes merupakan tokoh filsafat yang menganut paham rasinalisme yang menganggap bahwa akal adalah alat terpenting untuk memeperoleh pengetahuan. Dan menganggap bahwa pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan. Lahir tahun 1596 M dan meninggal tahun 1650 M. Ia adalah anak ketiga dari seorang anggota parlemen inggris. Merupakan orang yang taat mengerjakan ibadah menurut ajaran Katholik, tetapi beliau juga menganut bid’ah-bid’ah Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Belajar di College Des Jesuites La Fleche dari tahun 1604 – 1612 M. Beliau memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Perancis, musik dan akting. Disamping beliau juga belajar tentang filsafat, matematika, fisika, dan logika. Bahkan, beliau mendapat pengetahuan tentang logika Aristoteles, etika Nichomacus, astronomi, dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Dalam pendidikannya Descartes merasakan beberapa kebingungan dalam memahami berbagai aliran dalam filafat yang saling berlawanan. Dan pernah masuk tantara Belanda dan Bavaria. Dan akhirnya ia meninggal di Swedia tahun 1650 M setelah menerima panggilan Ratu Christine yang ingin belajar kepada dirinya.

Dalam pernyataanyang ia katakan Cogito ergo sum, ia menyatakan bahwa sumber keyakinan itu berasal dari keragu-raguan. Maka dari itu dalam epistemologinya Descartes dengan menggunakan metode analitis dan dengan pendekatan filsafat rasional yang mendahulukan akal ia mengatakan bahwa “ aku berfikir maka aku ada”. Dimulai dengan meragukan apa yang ada, segalanya, akan tetapi ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya yag sedang berfikitr tidak dapat diragukan. Maka dia mengatakan aku berfikir, maka aku ada. Untuk menemukan basis yang kuat dalam bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang diragukan. Mula-mula dia mencoba meragukan semua apa yang dapat di indera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode cogito tersebut. Dia meragukan adanya badaniah sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan Roh halus ada yang sebenarnya ada yang tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Didalam mimpi-mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan kenyataan ghaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, “ aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk keluar : ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis sama seperti itu, padahal aku ada ditempat tidur, sedang mimpi. “ tidak ada batas yang tegas antara mimpi ( sedang mimpi ) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya sepeti bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga ( yang kita katakana sebagai jaga ini ) sebagaimana kita alami ini adalah kejadian-kejadian yang sebenarnya, jadi bukan mimpi ? tidak ada perbedaan yang jelas antara mimpi dan jaga : demikian yang dimaksud Descartes. Seperti benda-benda dalam halusinasi dan ilusi juga membawa kita dalam pertanyaan : yang manakah sesungguhnya yang benar-benar ada, yang sungguh-sungguh asli ? benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi, benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Dalam mimpi kita melihat dan mengalami benda-benda itu : adakah beda yang tegas antara mimpi dan jaga ? begitulah jalan pemikiran dalam metode cogito. Descertes memulai filsafat dari metode. Metode keraguan ini bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descertes hanya ditunjukan untuk menjelasan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sduatu kepastian di balik sesuatu. Keyakinan itu begitu jelas dan pasti, clear and distinct, dan menghasilkan keyakinan yang sempurna.Spinoza merunjuk kepada idea ini dan memberinya nama adequate ideas, sementara Leibniz merujuk juga dan memberinya sebutan truths of reason.

Dalam metode ini berjalan suatu deduksi yang tegas. Bila Descertes telah menemukan suatu idea yang distinct, maka ia dapat menggunakannya sebagai premise yang dari sana ia mendeduksi keyakinan lain yang juga distinct, seluruh proses penyimpulan itu terlepas dari data empiris keseluruhannya merupakan poroses rasional.

Setelah fondasi itu di temukan, mulialah ia mendirikan bangunan filsafat diatasnya. Akal itu lah basis yang paling terpercaya dalam berfisafat.

  • Pokok-Pokok Pemikiran Rene Descartes
  1.  Cogito Ergo Sum
Cogito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan “aku berfikir maka aku ada” merupakan sebuah pemikiran yang ia hasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance. Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes memepunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis.
Cogito dimulai dari metode penyangsian. Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki, termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya bahwa ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa tuhan ada). Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kasangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dan Descartes tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berfikir. Maka, Cogito ergo sum: saya yang sedang menyangsikan, ada Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku. 

 2. Ide-ide bawaan

Karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapar dipercayai, maka menurut Descartes saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya dangan menggunakan norma tadi. Kalau metode dilangsungkan demikian,apakah hasilnya? Descartes berpendapat bahwa dalam diri saya terutama dapat ditemukan tiga “ide bawaan” (Inggris: innate ideas) Ketiga ini yang sudah ada dalam diri saya sejak saya lahir msing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.

a. Pemikiran
Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.

b. Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna
Karena saya mempunyai ide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempuna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.

c. Keluasan
Materi sebagai keluasan atau ekstensi ( extension ), sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur

3. Substansi
 
Descartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi: Pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran. Kedua, materi yang hakikatny adalah keluasan. Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk memebuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi saya ide keluasan, sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan dmikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia materil lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.

4. Manusia
 
Descartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalam grandula pinealis ( sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, akhirnya pemecahn ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.

  • Pengaruh Pemikiran Rene Descartes 
Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa yaitu:
  1. Pandangan mekanisnya mengenai alam semesta.
  1. Sikapnya yang positif terhadap penjajagan ilmiah.
  1. Tekanan yang diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan.
  1. Pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptic.
  1. Penitikpusatan perhatian terhadap epistemology.
Jadi dengan metode pemikiran Rene Descartes tersebut dapat mengungkap kebenaran dan membangun filsafatnya untuk keluar dari keraguan bersyarat yang diperoleh dari pengalaman inderawinya.